Selasa, 24 April 2012

Majalah Mahkota Edisi Perdana


MENANAMKAN KARAKTER MELALUI TAYANGAN TELEVISI
Oleh : Yanti Purborini, S.Pd


Pada era 70an Televisi merupakan barang mewah. Belum banyak orang yang memiliki televisi karena selain barang langka harganyapun masih mahal. Sehingga televisi hanya bisa dimiliki oleh orang-orang kalangan atas. Namun orang-orang yang belum memiliki televisi tidak pernah bersedih maupun merasa minder. Mereka dengan senang hati bertandang ke rumah tetangganya yang memiliki televisi atau beramai-ramai ke kantor desa bahkan rela berjalan jauh ke alon-alon demi ingin menyaksikan acara di televisi.
Saat itu begitu indah. Kebersamaan  dan kekeluargaan begitu terasa. Silaturohmi begitu terjaga. Walaupun ketika itu hanya ada satu station televisi yaitu TVRI mereka merasa begitu terhibur. Ditilik dari acara yang ditayangkan televisi waktu itu dengan tayangan sekarang ini sangatlah berbeda. Dulu semua tayangan begitu santun sehingga bisa dikonsumsi oleh semua umur. Hal tersebut karena belum banyak pengaruh globalisasi. Selain itu ketegasan lembaga sensor sangat berpengaruh. Penyeleksian acara waktu itu begitu ketat. Tayangan yang sekiranya mengarah pada hal-hal negatip pasti kena sensor. Sehingga acara televisi waktu itu hanya berdampak positip bagi pemirsanya.
Jika kita bandingkan dengan dunia pertelevisian sekarang ini sangatlah berbeda. Sekarang televisi bukan lagi barang mewah. Setiap rumah pasti memiliki tevisi, bahkan satu rumah memiliki lebih dari satu televisi. Hal tersebut menyebabkan tak ada lagi silaturohmi dan kebersamaan. Orang lebih asyik menonton televisi di rumah masing-masing, dengan demikian orang semakin egois dan merasa tidak memerlukan orang lain. Selain semakin meningkatnya jumlah pesawat televisi, jumlah stasiun televisipun tak terhitung. Bagi orang-orang berduit dan kurang puas dengan stasiun televisi yang ada mereka memasang parabola atau berlangganan tv kabel. Sehingga mereka dapat menyaksikan tayangan dari station televisi luar negeri yang tidak sesuai dengan budaya kita. Meskipun menurut kebanyakan orang tayangannya lebih bagus dan berkualitas tetapi belum tentu bagus badikunsumsi oleh anak-anak dan pemuda kita.
Acara-acara televisi sekarang ini sepertinya tanpa sensor sehingga tayangan yang sebenarnya tidak layak dikonsumsi anak-anak terpaksa dikunsumsi oleh mereka. Sehingga tidak heran jika mereka melakukan kekerasan maupun kejahatan. Hal ini ikut ambil bagian dalam rusaknya generasi muda.
Lalu siapa yang harus bertanggung jawab? Tentunya semua pihak ikut bertanggung jawab. Keluarga, guru, pemerintah dan masyarakat harus menyamakan langkah untuk mengembalikan generasi muda kita sebagai generasi yang bermartabat dan bertanggung jawab. Semua pihak harus ambil peran sesuai porsi masing-masing.
PERANAN KELUARGA
Selama dua puluh empat jam waktu anak lebih banyak dihabiskan di rumah. Waktu di rumah mereka paling banyak dihabiskan di depan televisi. Banyak acara-acara yang sebenarnya tidak layak mereka saksikan. Yang lebih parah mereka menonton televisi sendirian tanpa didampingi orang lain. Mereka dengan bebas memilih acara yang menurutnya menarik dan mengasyikkan. Katakanlah anak-anak senang menonton film kartun. Memang itu konsumsi anak-anak, akan tetapi apakah tayangan itu mendidik bagi mereka? Di sinilah perlunya kontrol dan pendampingan orang tua atau keluarga. Dengan mendampingi anak menonton televisi kita bisa memberikan pengarahan mana yang perlu dicontoh dan mana yang tidak boleh dicontoh, tentu saja dengan alasan yang tepat. Pada kesempatan itu kita bisa memasukkan nilai-nilai luhur yang sesuai dengan peradaban bangsa Indonesia.Dengan pendampingan seperti ini rang tua bisa membahas tayangan tersebut dengan anak  sekaligus memberikan arah sehingga anak menjadi tahu mana yang baik mana yang buruk, mana yang boleh mana yang tidak. Dengan seringnya mendapat arahan insyaalloh untuk selanjutnya anak bisa memilih sendiri acara yang baik sesuai dengan umur mereka.
Jika tanpa ada pendampingan orang tua atau keluarga anak akan lepas kontrol. Anak-anak akan bebas memilih sendiri acara yang mereka senangi.padahal anak-anak belum bisa mimilh acara mana yang baik untuk mereka, apakah bermanfaat atau malah menyesatkan. Dan mereka cenderung menirukan apa yang dia tonton. Sebagai contoh ketika mereka menyaksikan Ipin Upin, mereka cenderung menirukan gaya berbicaranya ketimbang menceritakan nilai-nilai yang ada di dalamnya. Belum lagi jika mereka menyaksikan tayangan tentang kekerasan. Karena kekerasan dianggap keren oleh anak mereka pasti akan menirukan. Alangkah ngerinya. Dan masih banyak tayangan-tayangan lain ayang membahayakan generasi muda kita.
Selain mendampingi ketika menonton,orang tua atau anggota keluarga yang lain juga harus membatasi waktu nonton televisi. Ketika jam belajar hendaknya tv benar-benar dimatikan. Pada umumnya orang tua hanya menyuruh anak untuk belajar, tetapi mereka asyik menonton televisi.  Mereka tidak menyadari akibat dari hal tersebut. Meskipun anak belajar di ruang yang lain senyampang dia tahu ada yang menonton televisi konsentrasi anak pasti terpecah. Anak juga ingin menonton televisi bersama keluarganya. Maka belajar si anak tidak akan maksimal. Lain halnya jika ketika jam belajar televisi dimatikan dan orang tua mendampingi putra-putrinya belajar, anak pasti akan lebih bersemangat untuk belajar. Mereka merasa nyaman karena mendapat perhatian orang tuanya. Sehingga   orang tahu sampai di mana kemajuan belajar putra-putrinya.
PERANAN GURU
Dengan meningkatnya siaran telavisi yang semakin amburadul tugas guru semakin berat. Menurut teori pendidikan tabularasa anak terlahir dalam keadaan bersih, putih seperti kertas. Mau diisi apa kertas tersebut adalah tugas orang-orang di sekitarnya.
Dulu tugas tersebut dilakukan oleh keluarga. Sekolah dan masyarakat di sekitar anak. Sehingga tidak banyak pengaruh jelek yang diterima anak. Tetapi sekarang bukan hanya 3 unsur di atas yang ikut mewarnai kertas putih tersebut. Siaran televisi mmpunyai andil besar dalam memberikan warna. Dapat dikatakan bukan hanya masyarakat yang ada di sekitar tempat tinggal anak saja yang mempengaruhi anak tetapi melalui televisi masyarakat luar negeripun banyak mewarnai kepribadian mereka. Anak lebih suka menirukan televisi daripada mendengarkan nasihat orang tua atau guru.
Ketika oarang tua tidak dapat berperan aktip dalam mengatasi dampak negatip televisi maka gurulah yang harus aktip ambil bagian dalam hal ini. Tentu saja guru tidak harus mendampingi siswa nonton televisi. Lalu bagaimana caranya? Ada beberapa cara yang bisa dilakukan guru. Antara lain : Memanfaatkan tayangan televisi sebagai bahan ajar. Banyak tayangan televisi yang bisa kita kaitkan dengan mata pelajaran, misalnya Bahasa Indonesia kita dapat menyuruh anak menonton tayangan berita kemudian anak disuruh menulis pokok-pokok berita untuk dipresentasikan di hadapan teman-temannya. Dalam hal ini guru juga harus menyaksikan tayangan tersebut supaya bisa mengoreksi tugas yang diberkan. Selain melatih siswa untuk lebih terampil menentukan pokok-pokok berita, mengetahui peristiwa-peristiwa di dalam maupun luar negeri juga untuk mengurangi kapasitas anak untuk melihat tayangan lain yang kurang bermanfaat. Yang perlu menjadi catatan ketika dalam pemberitaan tersebut ditayangkan kekerasan atau porno grafi guru harus memberikan pengarahan supaya anak tidak menirukan hal tersebut. Tugas ini bisa diberikan kepada siswa kelas 4,5,dan 6.
Mengontrol acarara apa saja yang ditonton oleh anak selama satu hari. Untuk mengetahui apa saja yang mereka tonton kita bisa menyuruh anak menuliskan pengalamannya menonton televisi selama satu hari. Catatan anak tersebut sebagai bahan untuk mengetahui acara apa yang paling disukai anak-anak. Setelah tahu apa yang disukai anak-anak kita akan tepat memberikan arahan dan bimbingan.
Selain sebagai bahan untuk memberikan bimbingan tugas ini juga mendidik mereka untuk berkata jujur. Terutama pada siswa kelas 1,2,3. Kalau dalam catatan anak banyak yang suka menonton film kartun misalnya, kita bisa menyuruh salah satu anak untuk menceritakan kembali jalannya cerita supaya teman-temannya menanggapi. Mungkin timbul  pertanyaan , lalu kapan kita mengajar? Ingat ! tugas guru tidak hanya mengajar tetapi juga mendidik. Katakan kita kehilangan waktu 5 sampai 10 menit, tetapi banyak nilai moral yang kita tanamkan kepada anak sehingga terbentuk karakter-karakter yang madani. Bukankah pendidikan kita sekarang ini pendidikan berkarakter? karenanya sebagai guru kita harus pandai-pandai menyiasati dampak negatip dari televisi.
PERAN PEMERINTAH.
Seperti telah ditulis di atas, pada era 70 atau 80an peranan Badan sensor yang dibentuk pemerintah masih sangat berfungsi. Petugas-petugasnya mempunyai tanggung jawab moral pada bangsanya, mereka betul-betul selektip dalam menyeleksi acara yang akan ditayangkan untuk khalayak. Sehingga acara televisi maupun film layar lebar aman ditonton oleh siapa saja. Saat itu penyensoran begitu ketat.
Bagaimana keadaan sekarang? Masih adakah lembaga sensor? Jawabnya masih dong. Tapi apakah masih berfungsi ? Itulah yang menjadi pertanyaan.
Sebenarnya lembaga itu masih ada dan berfungsi. Namun fungsinya berkurang, terbukti banyak tayangan televisi yang melanggar undang-undang pornografi lolos sensor. Sehingga kurang etis dan tidak layak tonton. Apakah saringan di lembaga sensor kita banyak yang jebol ?? atau undang-undang publikasinya yang terlalu longgar?? Jebolnya saringan pada lembaga sensor mungkin diakibatkan oleh person-person yang ada di dalamnya. Mungkin mereka belum memahami sepenuhnya bahwa tanggung jawabnya sangat mempengaruhi karakter bangsanya. Masa depan negara ada ditangan generasi muda. Jika moral generasi muda telah dirusak oleh tayangan-tayangan yang memabukkan dan lolos sensor, apa jadinya bangsa dan negara ini?
Kemungkinan lain jebolnya saringan lembaga sensor kita karena longgarnya uu publikasi dan uu pornografi. Jika itu penyebabnya pemerintah perlu mengkaji ulang  kedua undang-undang tersebut supaya masa depan generasi muda kita terselamatkan. Selain itu pemerintah dalam hal ini kementerian komunikasi dan informasi harus selalu mengawasi kinerja aparat-aparatnya yang menangani langsung  pensensoran acara televisi. Jika terjadi penyimpangan segera ditindak tegas.
Mengingat banyaknya dampak negatip siaran televisi  terhadap moral generasi muda kita, marilah segera merapatkan barisan, menyamakan langkah untuk meminimalisir pengaruh tersebut. Antara keluarga,sekolah dan pemerintah harus satu kata. Apa artinya di sekolah diarahkan tetapi keluarga membiarkan bahkan bertolak belakang. Keluarga dan sekolah sudah sinkrun tetapi pemerintah masih meloloskan acara;acara yang kurang mendidik, sama juga bohong.