Selasa, 31 Desember 2013

METODE WORD SQUARE


METODE WORD SQUARE   DAPAT MENINGKATKAN KEAKTIFAN BELAJAR SISWA KELAS II TERUTAMA PELAJARAN IPA

Pendidikan merupakan upaya untuk mendidik generasi penerus bangsa agar memiliki tingkat pengetahuan yang tinggi dan sesuai dengan perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi sehingga mereka diharapkan memiliki kemampuan yang dapat dijadikan bekal hidup dimana mereka akan terjun ke masyarakat. Untuk mencapai semua itu, pendidikan harus selalu mengadakan adaptasi terhadap perkembangan jaman. Perwujudan masyarakat berkualitas menjadi tanggung jawab pendidikan, terutama dalam menyiapkan peserta didik menjadi subyek yang semakin berperan menampilkan keunggulan dirinya yang tangguh, kreatif, mandiri dan profesional pada bidang masing-masing.
Rendahnya keaktifan siswa dalam pembelajaran di kelas berpengaruh terhadap prestasi siswa yang kurang memuaskan yang dapat dilihat dari nilai tugas harian. Siswa yang cenderung aktif mendapatkan nilai tugas harian yang lebih tinggi dibandingkan siswa yang cenderung pasif dalam pembelajaran. Hal ini dikarenakan siswa yang pasif, mereka jarang bertanya kepada guru mengenai materi yang kurang mereka mengerti.
Salah satu pemecahan masalah ini adalah dengan mencoba mengaktifkan siswa dengan cara pembelajaran kooperatif yang  menyatakan bahwa pembelajaran di mana siswa belajar bersama, saling menyumbangkan pikiran dan bertanggung jawab terhadap pencapaian hasil belajar secara individu maupun kelompok. Pembelajaran kooperatif dapat memberikan keuntungan, baik bagi siswa kelompok atas, menengah, maupun siswa kelompok bawah yang bekerja sama dalam menyelesaikan tugas-tugas akademik.
Hal penting dalam pembelajaran kooperatif adalah kemampuan untuk menerima segala perbedaan yang ada pada setiap anggota kelompok yang pada akhirnya dapat memberikan suatu keterampilan bekerja sama dan berkolaborasi.
Di dalam pelaksanaan pembelajaran, terdapat berbagai jenis metode atau model pembelajaran inovatif  yang dapat digunakan, salah satunya adalah pembelajaran Word Square. Pembelajaran Word Square akan membantu siswa untuk belajar untuk mandiri dan memberikan inovasi dalam kegiatan pembelajaran sehingga kegiatan di dalam kelas tidak monoton dan membosankan.
    A. Pembelajaran word square .
Word Square adalah salah satu pembelajaran inovatif yang bisa membantu guru untuk memberikan keragaman kegiatan pembelajaran. Karena kegiatan pembelajaran yang monoton akan membuat siswa menjadi malas dan kurang berantusias mengikuti kegiatan pembelajaran. Langkah-langkah dari Word Square sebagai berikut:
1.      Sampaikan materi sesuai dengan kompetensi
2.      Membagikan lembar kegiatan sesuai contoh
3.      Siswa disuruh menjawab soal kemudian dengan benar dalam lembar jawaban  dengan benar
4.      Guru memberikan poin setiap jawaban dalam lembar jawaban.
B. Keaktifan Siswa.
Menurut Yamin (2007:81) belajar aktif: Belajar aktif merupakan fungsi interaksi antara individu dan situasi di sekitarnya yang ditentukan oleh indikator merupakan pengembangan dari kompetensi dasar. Interaksi yang terus menerus menimbulkan pengalaman-pengalaman dan keinginan untuk memahami sesuatu yang baru, yang belum dipahami, atau yang belum dialami.
Yamin (2007:82) menyimpulkan “belajar aktif adalah suatu usaha manusia membangun pengetahuan dalam dirinya. Dalam proses pembelajaran terjadi perubahan dan peningkatan mutu kemampuan, pengetahuan, keterampilan siswa, baik dalam ranah kognitif, psikomotorik, dan afektif”.
Menurut Bonwell  pembelajaran aktif memiliki karakteristik sebagai berikut:
1.      Penekanan proses pembelajaran bukan pada penyampaian informasi oleh pengaja melainkan pengembangan ketrampilan pemikiran analitis dan kritis terhadap topik atau permasalahan yang dibahas.
2.      Siswa tidak hanya mendengarkan pelajaran secara pasif, tetapi mengajarkan sesuatu yang  berkaitan dengan materi pelajaran.
3.      Penekanan pada ekplorasi nilai-nilai  dan sikap-sikap berkenaan dengan materi.
4.      Siswa lebih banyak dituntut berpikir kritis, menganalisa dan melakukan evaluasi.
5.      Umpan balik yang lebih cepat akan terjadi pada proses pembelajaran.
C.     Jenis-jenis Aktivitas
 Menurut  buku Pedoman Penulisan Karya Ilmiah Universitas Negeri Malang (UM, 2010:58) dinyatakan bahwa “Guru adalah pihak yang merasakan adanya masalah yang perlu diselesaikan, oleh karena itu, kehadiran guru di dalam kancah kegiatan sangatlah penting artinya agar dapat menghayati apa yang sebenarnya terjadi di lapangan”. Dari paparan diatas maka peran guru di dalam kegiatan di lapangan mutlak  diperlukan, karena guru bertindak sebagai instrument kunci yakni sebagai pengumpul data, penganalisis data, pengamat, pewawancara, sekaligus sebagai fasilitator  dalam proses pembelajaran dalam upaya mengatasi masalah keaktifan siswa yang rendah. guru bertindak untuk melangsungkan proses pembelajaran yang menerapkan metode pembelajaran berupa Word Square guna mencapai keberhasilan berupa peningkatan keaktifan siswa.
D.  Kriteria keberhasilan penggunaan metode word square
Kegiatan  ini disebut berhasil jika lebih dari 50% siswa memiliki hasil belajar lebih besar dari Kreteria Ketuntasan Materi ( KKM ). Diskripsi data ini diperoleh dari data siklus yang dilakukan dalam Instrumen penilaian yang dianalisa untuk diambil skor. Sistim pemberian skor didasarkan pada jawaban yang benar. Dengan menggunakan siklus penilaian
Pada siklus pertama diperoleh nilai rata-rata siswa, nilai tersebut apabila masih sangat kurang perlu diadakan siklus 2. Pada saat dilaksanakan siklus pertama guru mencatat respon siswa terhadap materi yang masih kurang. Siswa kurang berminat pada penjelasan guru dan enggan untuk melaksanakan tugas menjawab pertanyaan mengenai materi. Kemudian dilaksanakan siklus kedua dengan tahapan yang sama dengan siklus pertama . Pada siklus  kedua ini guru mulai membenahi kekurangan-kekurangan yang terjadi pada siklus 1.
Peningkatan  pada siklus 2 tersebut dapat diketahui dari perbandingan nilai rata-rata siswa pada siklus pertama dan siklus kedua. Barulah berhasil kegiatan pembelajaran dengan menggunakan metode Word Square.
E.      Kesimpulan
1.      Pembelajaran Word Square dapat meningktkan keaktifan belajar siswa terutama kelas II
2.      Prestasi siswa kelas II lebih meningkat terutama mata pelajaran IPA  pada kompetensi dasar mengidentifikasi kenampakan matahari pada pagi, siang dan sore hari setelah menggunakan Pembelajaran Word Square..
F.      Harapan
1.      Semoga kwalitas pembelajaran di sekolah lebih meningkat.
2.      Semoga guru dapat mencoba dan menerapkan metode pembelajaran ini di kelas untuk meningkatkan kinerjanya.

Membaca dengan Metode Kopasus?


PEMBELAJARAN MEMBACA PERMULAAN
DENGAN STRATEGI KOPASUS PERMAINAN KUBUS
DI KELAS I SEKOLAH DASAR

Keluhan tentang rendahnya kemampuan membaca permulaan di kelas I sekolah dasar bukan merupakan rahasia lagi. Banyak faktor yang menjadi belum maksimalnya kemampuan siswa. Namun, dalam hal ini yang menjadi faktor utama adalah kurangnya kreativitas dan kemauan dari guru untuk mencoba menggunakan strategi dan media pembelajaran yang bervariasi. Tujuan utama tulisan ini adalah menginformasikan, mengidentifikasikan, dan menguraikan teori yang berkaitan dengan pembelajaran membaca permulaan di kelas I sekolah dasar menggunakan strategi kopasus. Dengan bertambahnya wawasan mengenai teori dan implikasinya serta peningkatan kreativitas guru dalam menggunakan media yang lebih bervariasi, diharapkan kemampuan membaca siswa lebih meningkat.
Kemampuan membaca yang diperoleh pada membaca permulaan akan sangat berpengaruh terhadap kemampuan membaca lanjut. Sebagai kemampuan yang mendasari kemampuan berikutnya, maka kemampuan membaca permulaan benar-benar memerlukan perhatian guru. Jika dasar itu tidak kuat, pada tahap membaca lanjut siswa akan mengalami kesulitan untuk dapat memiliki kemampuan membaca yang memadai. Oleh sebab itu, bagaima-napun guru kelas I dan II harus dapat mengajarkan pembelajaran membaca permulaan dengan cara yang tepat agar ia dapat memberikan dasar kemampuan membaca yang memadai kepada anak didiknya.
Salah satu alternatif yang diduga dapat mengatasi masalah pembelajaran membaca permulaan tersebut adalah menggunakan strategi kopasus permainan kubus. Dalam permainan ini kartu-kartu yang digunakan sebagai alat permainan ditempelkan pada sisi-sisi sebuah kotak berbentuk kubus. Strategi kopasus merupakan singkatan dari kelompok pasang susun. Penerapan strategi kopasus kegiatan pembe-lajaran dibagi dalam lima tahap pembelajaran, yaitu tahap pengelompokan, pemasangan, penyusunan, pembahasan, dan penutup.
Untuk mengoptimalkan pembelajaran membaca permulaan di SD dilakukan tindak pembelajaran yang memanfaatkan strategi kopasus permainan kubus dalam pembelajaran membaca permulaan. Strategi pembelajaran tersebut dapat diterapkan oleh guru di kelas I SD sebagai salah satu pembelajaran yang dapat meningkatkan kemampuan membaca permulaan siswa. Penggunaan strategi kopasus permainan kubus sebagai media pembelajaran pada pembelajaran membaca permulaan di kelas I SD diharapkan akan membantu tercapai-nya hasil belajar yang diharapkan.
Pembelajaran Membaca Permulaan
Membaca permulaan adalah tahapan proses belajar membaca yang diperuntukkan bagi siswa SD kelas awal. Membaca permulaan berlangsung selama dua tahun, yaitu untuk SD kelas I dan II. Bagi mereka, membaca adalah kegiatan belajar mengenal bahasa tulis. Melalui tulisan itulah siswa dituntut dapat menyuarakan lambang-lambang bunyi bahasa tersebut.
Membaca permulaan di kelas I SD dimaksudkan untuk melatih siswa menguasai teknik membaca, melatih keterampilan melagukan atau mengucapkan tulisan dengan baik. Keberhasilan siswa membaca permulaan memungkinkan siswa memiliki (1) pengetahuan dasar yang dapat digunakan sebagai dasar untuk mendengarkan bahasa Indonesia, (2) pengetahuan dasar yang dapat digunakan sebagai dasar untuk berbicara bahasa Indonesia, (3) pengetahuan dasar yang digunakan sebagai dasar untuk membaca bahasa Indonesia, dan (4) pengetahuan dasar yang dapat digunakan sebagai dasar untuk menulis dalam bahasa Indonesia.
Pelaksanaan membaca permulaan di kelas I SD dilakukan dalam dua periode, yaitu periode membaca tanpa buku dan membaca menggunakan buku. Membaca tanpa buku dilakukan dengan cara mengajar menggunakan media atau alat peraga selain buku, sedangkan membaca dengan buku merupakan kegiatan membaca dengan menggunakan buku sebagai bahan dan media pembelajaran.
Membaca permulaan tanpa buku diberikan dengan pertimbangan agar siswa yang baru masuk sekolah tidak langsung dibebani dengan masalah-masalah yang memberatkan siswa. Biasanya dalam membaca permulaan tanpa buku ini siswa hanya dilibatkan dengan kegiatan-kegiatan seperti menyimak cerita guru, bertanya jawab dengan guru, memperhatikan gambar yang diperlihatkan guru, membicarakan gambar, menemukan tanda bunyi, membaca kata, membaca kalimat, dan lain-lain. Waktu yang diperlukan untuk pengajaran membaca permulaan tanpa buku maksimal 8 sampai 10 minggu. Sisa dari semester pertama digunakan untuk membaca dengan buku.
Membaca permulaan dengan buku dimulai dengan membaca tulisan yang bahannya diambil dari bahan yang telah dipelajari pada waktu mereka mempelajari huruf-huruf pada tahap membaca tanpa buku. Buku-buku yang digunakan adalah buku paket dan buku pelengkap yang sudah disesuaikan dengan kurikulum yang berlaku. Biasanya pembelajaran yang dilakukan oleh guru adalah membaca bacaan dengan nyaring bersama siswa, guru menyuruh siswa membaca setiap baris secara bergantian. Dengan cara ini guru dapat mengetahui kemampuan membaca siswa.
Berkaitan dengan pembe-lajaran membaca permulaan di kelas I SD pada minggu-minggu pertama bahan pembelajaran itu disusun guru berdasarkan kalimat siswa, kemudian secara bertahap baru menggunakan buku paket yang telah disediakan. Bahan pembelajaran yang disampaikan meliputi (1) tahap persiapan, yang disampaikan (a) sikap duduk yang baik, (b) cara meletakkan/ menempatkan buku di meja, (c) cara memagang buku, (d) cara membalik halaman buku yang tepat, (e) melihat/memperhatikan gambar atau tulisan, dan (2) tahap membaca, yang diajarkan (a) lafal dan intonasi kata dan kalimat sederhana dengan cara menirukan guru, (b) huruf-huruf yang banyak digunakan dalam kata dan kalimat sederhana yang sudah dikenal siswa, huruf-huruf dikenalkan secara bertahap sampai dengan 14 huruf, yaitu huruf a, i, m, u, l, b, e, t, p, o, d, k, dan s, (c) kata-kata baru yang bermakna, (d) lafal dan intonasi kata yang sudah dikenal dan kata baru, pengenalan huruf h, r, j, g, dan y, (e) puisi yang sesuai dengan tingkat kemampuan siswa, (f) bacaan lebih kurang sepuluh kalimat, dan (g) kalimat-kalimat sederhana.
Melihat pentingnya peran media pembelajaran tersebut, sebaiknya guru menyediakan media pada saat melaksanakan kegiatan pembelajaran. Dihubungkan dengan pembelajaran membaca permulaan di kelas I SD, media yang digunakan adalah kartu huruf, kartu suku kata, kartu kata, kartu kalimat, kartu gambar, buku teks, papan flannel, guru, dan lain-lain. Keefektifan berbagai media pembelajaran tersebut sangat tergantung pada kreativitas guru dalam mempergunakannya.
Ada beberapa faktor yang mempengaruhi kemampuan membaca permulaan. Faktor-faktor tersebut dijabarkan sebagai berikut.
1) Faktor Motivasi
Motivasi membaca adalah suatu dorongan atau rangsangan yang dapat membuat pembaca sadar, mau, dan mampu melakukan kegiatan membaca guna memperoleh pesan yang hendak disampaikan penulis melalui lambang tulisan yang dibacanya.
2) Faktor Guru
Guru diharapkan berperan sebagai pembaca terbaik, memiliki pengetahuan membaca yang baik, membagikan pengalaman membacanya dengan siswa, dan mempersiapkan atau membekali dirinya dengan bahan yang seoptimal mungkin. Guru diharapkan  mampu memilih dan menentukan bahan, media, metode, dan srtategi pembelajaran yang akan digunakan.
3) Faktor Lingkungan Keluarga
Lingkungan keluarga meme-gang peran yang penting dalam meningkatkan kemampuan dan kemauan membaca siswa. Orang tua yang memiliki kesadaran akan pentingnya kemampuan membaca akan berusaha agar anaknya memiliki kesempatan untuk belajar membaca. Kebiasaan orang tua membacakan cerita untuk anak-anak yang masih kecil merupakan usaha yang besar sekali artinya dalam menumbuhkan minat baca maupun perluasan pengalaman serta pengetahuan anak.
4) Faktor Bahan Bacaan
Bahan bacaan akan mempengaruhi seseorang dalam hal minat maupun kemampuan memahami suatu bacaan. Bahan bacaan yang sulit akan mematahkan selera anak untuk membacanya.
Strategi Kopasus
Strategi kopasus merupakan singkatan dari kelompok-pasang-susun. Tahap-tahap pembelajaran membaca permulaan dengan strategi kopasus dijabarkan sebagai berikut.
1)      Tahap pertama disebut dengan tahap pengelompokan. Tahap ini merupakan tahap persiapan sebelum pembelajaran dimulai. Tahap ini disebut juga dengan tahap pemfokusan. Tahap ini dibedakan menjadi dua aspek, yaitu (1) kegiatan prapermainan, dan (2) jenis kegiatan permainan yang sesuai dengan tujuan pembelajaran, siswa, situasi, dan lingkungan. Tujuan tahap pengelompokan adalah untuk menarik perhatian siswa, memotivasi siswa, mengaitkan materi permainan dengan pengalaman siswa, dan menggambarkan garis besar permainan.
2)      Tahap kedua disebut dengan tahap pemasangan. Tahap ini merupakan tahap pelaksanaan aktivitas awal. Pada tahap ini siswa diarahkan untuk dapat berperan aktif mulai dari awal permainan. Kegiatan pada tahap ini dilakukan dengan cara individual dan kelompok. Penerapan tahap ini dalam permainan dimulai dengan kegiatan memilih dan mengambil kubus-kubus yang akan digunakan dalam permainan. Ketepatan dan kecepatan siswa dalam beraktivitas merupakan salah satu dari proses penilaian. Tahap ini dibedakan menjadi dua aspek, yaitu (1) kegiatan permainan yang berpusat pada aktivitas siswa, dan (2) kegiatan permainan yang disusun dengan urutan yang logis.
3)      Tahap disebut dengan tahap penyusunan. Tahap ini merupakan kelanjutan tahap pelaksanaan aktivitas. Kubus-kubus yang telah dipilih/diambil kemudian disusun sesuai dengan petunjuk atau perintah dalam permainan. Ketepatan, kecepatan, dan kerapian merupakan hal yang dinilai dalam proses penilaian. Tahap ini dibedakan menjadi tiga aspek, yaitu (1) kegiatan permainan secara invidual, kelompok, atau klasikal, (2) mengelola waktu permainan secara efisien, dan (3) penggunaan bahasa lisan, tulisan, dan isyarat.
4)      Tahap keempat disebut dengan tahap pembahasan. Tahap ini bertujuan untuk membantu siswa mengingat kembali pengalaman atau pengetahuan yang sudah diperolehnya dan mendorong siswa agar mau berperan serta dalam kegiatan permainan. Tahap ini dbedakan menjadi dua aspek, yaitu (1) memicu dan memelihara keterlibatan siswa, dan (2) membantu menumbuhkan kepercayaan pada diri siswa.
5)      Tahap kelima disebut dengan tahap penutup. Tahap ini bertujuan untuk memberikan pujian kepada siswa (rayakan), memberikan kesempatan kepada siswa untuk mengungkapkan kesan pembelajaran, dan memancing inisiatif siswa untuk merapikan kembali kubus-kubus yang telah digunakan.
Penggunaan strategi kopasus permainan kubus melibatkan siswa untuk aktif dan kreatif dalam pembelajaran. Suasana pembelajaran yang menyenangkan ikut membantu tercapainya tujuan pembelajaran yang diharapkan. Hal ini sejalan dengan pembelajaran aktif kreatif efektif menyenangkan atau yang lebih dikenal dengan istilah PAKEM.
Permainan Kubus
Pada hakikatnya permainan merupakan aktivitas untuk memperoleh keterampilan tertentu dengan cara mengembirakan di samping memperoleh kesenangan. Dengan kata lain, permainan meliputi rentang perilaku yang berkaitan dengan banyak aktivitas yang berbeda, baik yang dilakukan anak-anak maupun orang dewasa.
Menurut Sadiman, dkk. (1986:80-82), sebagai media pembelajaran, permainan mempunyai beberapa kelebihan. Kelebihan-kelebihan tersebut  dijabarkan sebagai berikut.
1)      Permainan merupakan sesuatu yang menyenangkan.
2)      Permainan memungkinkan adanya partisipasi aktif dari siswa untuk belajar. Permainan mempunyai kemampuan untuk melibatkan siswa dalam proses belajar secara aktif.
3)      Permainan dapat memberikan umpan balik langsung.
4)      Keterampilan yang dipelajari melalui permainan jauh lebih mudah untuk diterapkan.
5)      Permainan bersifat luwes.
6)      Permainan dapat dengan mudah dibuat dan diperbanyak. Untuk membuat permainan yang baik, tidak diperlukan seorang yang ahli.  
Pemilihan bentuk permainan disesuaikan dengan tujuan pembelajaran yang telah direncanakan. Adapun jenis permainan kubus yang dapat dimplementasikan dalam pembelajaran membaca permulaan di kelas I SD adalah (1) permainan membaca kubus gambar, (2) permainan ALAI (Aku Lihat Aku Ingat), (3) permainan mencocokkan kubus gambar dengan kubus kata, (4) permainan  menyusun kubus suku kata menjadi kata sesuai dengan gambar, (5) permainan menyusun kata acak menjadi kalimat, dan (6) permainan badak/baca-tindak.
Ada lima pola umum dalam mengimplementasikan strategi kopasus permainan kubus dalam pembelajaran membaca permulaan, yaitu (1) pengelompokan, (2) pemasangan, (3) penyusunan, (4) pembahasan, dan (5) penutup.
Pengelompokan merupakan tahap persiapan sebelum pembelajaran dimulai, yang digunakan untuk menarik perhatian siswa. Pengelompokan dilaksanakan dengan cara menyuruh siswa mengelompokan alat permainan berupa media kubus. Dalam tahap pengelompokan guru menjelaskan aktivitas atau aturan main yang harus dipatuhi. Pemasangan dan penyusunan merupakan tahap pelaksanaan aktivitas permainan. Pelaksanaan aktivitas ini berupa aktivitas bermain dan aktivitas pembelajaran yang harus dilaksanakan siswa, yang sudah dirancang guru sesuai dengan tujuan pembelajaran. Pembahasan aktivitas  berupa penguatan guru dikaitkan dengan materi yang telah diberikan sewaktu siswa melaksanakan aktivitas permainan. Penutup dimaksudkan untuk melihat respon siswa berkaitan dengan aktivitas pembelajaran yang telah dilaksanakan.

Strategi Bertanya dalam Pembelajaran


Bertanya sebagai Keterampilan Abad 21

A.     Pendahuluan
Bertanya merupakan cara yang efektif untuk memperluas pemikiran, untuk tumbuh dan berkembangnya pemikiran. Bertanya membuat apa yang di sekeliling kita masuk akal. Bertanya juga mengarahkan kita pada kecakapan untuk membuat pemecahan, keputusan, dan rencana dengan baik.
Guru yang efektif mampu menginspirasi peserta didik untuk meningkatkan dan mengembangkan ranah sikap, keterampilan, dan pengetahuannya. Pada saat guru bertanya, pada saat itu pula dia membimbing atau memandu peserta didiknya belajar dengan baik. Ketika guru menjawab pertanyaan peserta didiknya, ketika itu pula dia mendorong asuhannya itu untuk menjadi penyimak dan pembelajar yang baik.
Berbeda dengan penugasan yang menginginkan tindakan nyata, pertanyaan dimaksudkan untuk memperoleh tanggapan verbal. Istilah “pertanyaan” tidak selalu dalam bentuk “kalimat tanya”, melainkan juga dapat dalam bentuk pernyataan, asalkan keduanya menginginkan tanggapan verbal. Bentuk pertanyaan, misalnya: Apakah ciri-ciri kalimat yang efektif? Bentuk pernyataan, misalnya: Sebutkan ciri-ciri kalimay efektif!
B.     Fungsi bertanya dalam pembelajaran antara lain adalah
1.       Membangkitkan rasa ingin tahu, minat, dan perhatian  peserta didik tentang suatu tema atau topik pembelajaran.
2.       Mendorong dan menginspirasi peserta didik untuk aktif belajar, serta mengembangkan pertanyaan dari dan untuk dirinya sendiri.
3.       Mendiagnosis kesulitan belajar peserta didik sekaligus menyampaikan ancangan untuk mencari solusinya.
4.       Menstrukturkan tugas-tugas dan memberikan kesempatan kepada peserta didik untuk menunjukkan sikap, keterampilan, dan pemahamannya atas substansi pembelajaran yang diberikan.
5.       Membangkitkan keterampilan peserta didik dalam berbicara, mengajukan pertanyaan, dan memberi jawaban secara logis, sistematis, dan menggunakan bahasa yang baik dan benar.
6.       Mendorong partisipasi peserta didik dalam berdiskusi, berargumen, mengembangkan kemampuan berpikir,  dan menarik  simpulan.
7.       Membangun sikap keterbukaan untuk saling memberi dan menerima pendapat atau gagasan, memperkaya kosa kata, serta mengembangkan toleransi sosial dalam hidup berkelompok.
8.       Membiasakan peserta didik berpikir spontan dan cepat, serta sigap dalam merespon persoalan yang tiba-tiba muncul.
9.       Melatih kesantunan dalam berbicara dan membangkitkan kemampuan berempati satu sama lain.
C.      Strategi Bertanya
1.       Gunakan bahasa yang bisa dimengerti orang lain
2.       Ajukan pertanyaan yang memiliki lebih dari satu jawaban yang benar
3.       Mendorong berbagai jawaban dengan rekan atau kelompok kecil sebelum kelompok yang lebih besar
4.       Memanggil siswa secara acak dan menginjinkan siswa untuk meminta siswa lain untuk memberi tanggapan
5.       Mendengarkan secara aktif apa yang dikatakan siswa
6.       Menghindari godaan untuk memotong atau memperbaiki kesalahan dengan segera
7.       Menahan diri dalam memberikan penilaian dan menanggapi dengan cara yang tidak menghakimi
8.       Mengarahkan kembali jawaban yang salah
9.       Menyuruh satu siswa untuk merangkum gagasan siswa lain
10.   Meminta kelanjutan, seperti mengapa? Bisa cerita lebih jauh lagi? Mungkin ada contoh yang lain?
11.   Mengundang siswa untuk membuka “pemikiran mereka” dan mendiskusikan bagaimana mereka sampai pada jawaban tersebut
12.   Membiarkan siswa mengembangkan pertanyaan untuk saling bertanya.

D.     Kriteria pertanyaan yang baik
1.    Singkat dan jelas.
Contoh:  (1) Seberapa jauh pemahaman Anda mengenai faktor-faktor yang menyebabkan generasi muda terjerat kasus narkotika dan obat-obatan terlarang? (2) Faktor-faktor apakah yang menyebabkan generasi muda terjerat kasus narkotika dan obat-obatan terlarang? Pertanyaan kedua lebih singkat dan lebih jelas dibandingkan dengan pertanyaan pertama.
2.    Menginspirasi jawaban.
Contoh: Membangun semangat kerukunan umat beragama itu sangat penting pada bangsa yang multiagama. Jika suatu bangsa gagal membangun semangat kerukukan beragama, akan muncul aneka persoalan sosial kemasyarakatan. Coba jelaskan dampak sosial apa saja yang muncul, jika suatu bangsa gagal membangun kerukunan umat beragama? Dua kalimat yang mengawali pertanyaan di muka merupakan contoh yang diberikan guru untuk menginspirasi jawaban peserta menjawab pertanyaan.
3.    Memiliki fokus.
Contoh: Faktor-faktor apakah yang menyebabkan terjadinya kemiskinan? Untuk pertanyaan seperti ini sebaiknya masing-masing peserta didik diminta memunculkan satu jawaban. Peserta didik pertama hingga kelima misalnya menjawab: kebodohan, kemalasan, tidak memiliki modal usaha, kelangkaan sumber daya alam, dan keterisolasian geografis. Jika masih tersedia alternatif jawaban lain, peserta didik yang keenam dan seterusnya, bisa dimintai jawaban. Pertanyaan  yang luas seperti di atas dapat dipersempit, misalnya: Mengapa kemalasan menjadi penyebab kemiskinan? Pertanyaan seperti ini dimintakan jawabannya kepada peserta didik secara perorangan.
4.    Bersifat probing atau divergen.
Contoh: (1) Untuk meningkatkan kualitas hasil belajar, apakah peserta didik harus rajin belajar? (2) Mengapa peserta didik yang sangat malas belajar cenderung menjadi putus sekolah? Pertanyaan pertama cukup dijawab oleh  peserta didik dengan Ya atau Tidak. Sebaliknya, pertanyaan kedua menuntut jawaban yang bervariasi urutan jawaban dan penjelasannya, yang kemungkinan memiliki bobot kebenaran yang sama.
5.    Bersifat validatif atau penguatan.
Pertanyaan dapat diajukan dengan cara meminta kepada peserta didik  yang berbeda untuk menjawab pertanyaan yang sama. Jawaban atas pertanyaan itu  dimaksudkan untuk memvalidsi atau melakukan penguatan atas jawaban peserta didik sebelumnya. Ketika beberapa orang peserta didik telah memberikan jawaban yang sama, sebaiknya guru menghentikan pertanyaan itu atau meminta mereka memunculkan jawaban yang lain yang berbeda, namun sifatnya menguatkan.
Contoh:
Guru: “mengapa kemalasan menjadi penyebab kemiskinan”?
Peserta didik I: “karena orang yang malas lebih banyak diam ketimbang bekerja.”
Guru: “siapa yang dapat melengkapi jawaban tersebut?”
Peserta didik II: “karena lebih banyak diam ketimbang bekerja, orang yang malas tidak produktif”
Guru  : “siapa yang dapat melengkapi jawaban tersebut?”
Peserta didik III: “orang malas tidak bertindak aktif, sehingga kehilangan waktu terlalu banyak untuk bekerja, karena itu dia tidak produktif.”
6.    Memberi kesempatan peserta didik untuk berpikir ulang.
Untuk menjawab pertanyaan dari guru, peserta didik memerlukan waktu yang cukup untuk memikirkan jawabannya dan memverbalkannya dengan kata-kata. Karena itu, setelah mengajukan pertanyaan, guru hendaknya menunggu beberapa saat sebelum meminta atau menunjuk peserta didik untuk menjawab pertanyaan itu.
Jika dengan pertanyaan tertentu tidak ada peserta didik yang bisa menjawah dengan baik, sangat dianjurkan guru mengubah pertanyaannya. Misalnya: (1) Apa faktor picu utama Belanda menjajah Indonesia?; (2) Apa motif utama Belanda menjajah Indonesia? Jika dengan pertanyaan pertama guru belum memperoleh jawaban yang memuaskan, ada baiknya dia mengubah pertanyaan seperti pertanyaan kedua.
7.    Text Box: Semua pembelajaran itu melalui berpikir.  Inilah sebabnya pemerolehan teknik belajar harus terkait dengan teknik berpikir. Jika kualitas hidup ditentukan sebagian besar oleh kualitas berpikir, maka salah satu tujuan utama sekolah  seharusnya mengajarkan berpikir disiplin melalui berbagai mata pelajaran (Richard Paul Institut For Critical Thinking)Merangsang peningkatan tuntutan kemampuan kognitif.
Pertanyaan guru yang baik membuka peluang peserta didik untuk mengembangkan kemampuan berpikir yang makin meningkat, sesuai dengan tuntunan tingkat kognitifnya. Guru mengemas atau mengubah pertanyaan yang menuntut jawaban dengan tingkat kognitif rendah ke makin tinggi, seperti dari sekadar mengingat fakta ke pertanyaan yang menggugah kemampuan kognitif  yang lebih tinggi, seperti pemahaman, penerapan, analisis, sintesis, dan evaluasi. Kata-kata kunci pertanyaan ini, seperti: apa, mengapa, bagaimana, dan seterusnya.
8.    Merangsang proses interaksi.
Pertanyaan guru yang baik mendorong munculnya interaksi dan suasana menyenangkan pada diri peserta didik. Dalam kaitan ini, setelah menyampaikan pertanyaan, guru memberikan kesempatan kepada peserta didik mendiskusikan jawabannya. Setelah itu, guru memberi kesempatan kepada seorang atau beberapa orang peserta didik diminta menyampaikan jawaban atas pertanyaan tersebut. Pola bertanya seperti ini memposisikan guru sebagai wahana pemantul.
E.   Tingkatan Pertanyaan
Pertanyaan guru yang baik dan benar menginspirasi peserta didik untuk memberikan jawaban yang baik dan benar pula. Guru harus memahami kualitas pertanyaan, sehingga menggambarkan tingkatan kognitif seperti apa yang akan disentuh, mulai dari yang lebih rendah hingga yang lebih tinggi. Bobot pertanyaan yang menggambarkan tingkatan kognitif yang lebih rendah hingga yang lebih tinggi disajikan berikut ini.





Tingkatan
Sub Tingkatan
Kata-kata kunci pertanyaan
Kognitif yang lebih rendah
Pengetahuan (knowledge)
§ Apa...
§ Siapa...
§ Kapan...
§ Di mana...
§ Sebutkan...
§ Jodohkan atau pasangkan...
§ Persamaan kata...
§ Golongkan...
§ Berilah nama...
§ Dll.
Pemahaman (comprehension)
§ Terangkahlah...
§ Bedakanlah...
§ Terjemahkanlah...
§ Simpulkan...
§ Bandingkan...
§ Ubahlah...
§ Berikanlah interpretasi...
Penerapan (application
§ Gunakanlah...
§ Tunjukkanlah...
§ Buatlah...
§ Demonstrasikanlah...
§ Carilah hubungan...
§ Tulislah contoh...
§ Siapkanlah...
§ Klasifikasikanlah...
Kognitif yang lebih tinggi
Analisis (analysis)

§ Analisislah...
§ Kemukakan bukti-bukti…
§ Mengapa…
§ Identifikasikan…
§ Tunjukkanlah sebabnya…
§ Berilah alasan-alasan…
Sintesis (synthesis)
§ Ramalkanlah…
§ Bentuk…
§ Ciptakanlah…
§ Susunlah…
§ Rancanglah...
§ Tulislah…
§ Bagaimana kita dapat memecahkan…
§ Apa yang terjadi seaindainya…
§ Bagaimana kita dapat memperbaiki…
§ Kembangkan…
Evaluasi (evaluation)
§ Berilah pendapat…
§ Setujukah anda…
§ Kritiklah…
§ Berilah alasan…
§ Nilailah…
§ Bandingkan…
§ Bedakanlah…
Text Box: Sekitar lima puluh persen kapasitas fisik otak seorang anak dibangun dalam lima tahun pertama. Itulah sebabnya kita harus menciptakan lingkungan yang kaya rangsangan bagi anak Anda tanpa jatuh ke dalam perangkap menjadi orang tua yang “berlebihan”( Colin Rose )