MENANAMKAN KARAKTER MELALUI TAYANGAN TELEVISI
Oleh : Yanti
Purborini, S.Pd
Pada
era 70an Televisi merupakan barang mewah. Belum banyak orang yang memiliki
televisi karena selain barang langka harganyapun masih mahal. Sehingga televisi
hanya bisa dimiliki oleh orang-orang kalangan atas. Namun orang-orang yang
belum memiliki televisi tidak pernah bersedih maupun merasa minder. Mereka
dengan senang hati bertandang ke rumah tetangganya yang memiliki televisi atau
beramai-ramai ke kantor desa bahkan rela berjalan jauh ke alon-alon demi ingin
menyaksikan acara di televisi.
Saat
itu begitu indah. Kebersamaan dan
kekeluargaan begitu terasa. Silaturohmi begitu terjaga. Walaupun ketika itu
hanya ada satu station televisi yaitu TVRI mereka merasa begitu terhibur. Ditilik
dari acara yang ditayangkan televisi waktu itu dengan tayangan sekarang ini
sangatlah berbeda. Dulu semua tayangan begitu santun sehingga bisa dikonsumsi
oleh semua umur. Hal tersebut karena belum banyak pengaruh globalisasi. Selain
itu ketegasan lembaga sensor sangat berpengaruh. Penyeleksian acara waktu itu
begitu ketat. Tayangan yang sekiranya mengarah pada hal-hal negatip pasti kena
sensor. Sehingga acara televisi waktu itu hanya berdampak positip bagi
pemirsanya.
Jika
kita bandingkan dengan dunia pertelevisian sekarang ini sangatlah berbeda.
Sekarang televisi bukan lagi barang mewah. Setiap rumah pasti memiliki tevisi,
bahkan satu rumah memiliki lebih dari satu televisi. Hal tersebut menyebabkan
tak ada lagi silaturohmi dan kebersamaan. Orang lebih asyik menonton televisi
di rumah masing-masing, dengan demikian orang semakin egois dan merasa tidak
memerlukan orang lain. Selain semakin meningkatnya jumlah pesawat televisi,
jumlah stasiun televisipun tak terhitung. Bagi orang-orang berduit dan kurang
puas dengan stasiun televisi yang ada mereka memasang parabola atau
berlangganan tv kabel. Sehingga mereka dapat menyaksikan tayangan dari station
televisi luar negeri yang tidak sesuai dengan budaya kita. Meskipun menurut
kebanyakan orang tayangannya lebih bagus dan berkualitas tetapi belum tentu
bagus badikunsumsi oleh anak-anak dan pemuda kita.
Acara-acara
televisi sekarang ini sepertinya tanpa sensor sehingga tayangan yang sebenarnya
tidak layak dikonsumsi anak-anak terpaksa dikunsumsi oleh mereka. Sehingga
tidak heran jika mereka melakukan kekerasan maupun kejahatan. Hal ini ikut
ambil bagian dalam rusaknya generasi muda.
Lalu
siapa yang harus bertanggung jawab? Tentunya semua pihak ikut bertanggung
jawab. Keluarga, guru, pemerintah dan masyarakat harus menyamakan langkah untuk
mengembalikan generasi muda kita sebagai generasi yang bermartabat dan
bertanggung jawab. Semua pihak harus ambil peran sesuai porsi masing-masing.
PERANAN
KELUARGA
Selama
dua puluh empat jam waktu anak lebih banyak dihabiskan di rumah. Waktu di rumah
mereka paling banyak dihabiskan di depan televisi. Banyak acara-acara yang
sebenarnya tidak layak mereka saksikan. Yang lebih parah mereka menonton
televisi sendirian tanpa didampingi orang lain. Mereka dengan bebas memilih acara
yang menurutnya menarik dan mengasyikkan. Katakanlah anak-anak senang menonton
film kartun. Memang itu konsumsi anak-anak, akan tetapi apakah tayangan itu
mendidik bagi mereka? Di sinilah perlunya kontrol dan pendampingan orang tua
atau keluarga. Dengan mendampingi anak menonton televisi kita bisa memberikan
pengarahan mana yang perlu dicontoh dan mana yang tidak boleh dicontoh, tentu
saja dengan alasan yang tepat. Pada kesempatan itu kita bisa memasukkan
nilai-nilai luhur yang sesuai dengan peradaban bangsa Indonesia.Dengan
pendampingan seperti ini rang tua bisa membahas tayangan tersebut dengan
anak sekaligus memberikan arah sehingga
anak menjadi tahu mana yang baik mana yang buruk, mana yang boleh mana yang
tidak. Dengan seringnya mendapat arahan insyaalloh untuk selanjutnya anak bisa
memilih sendiri acara yang baik sesuai dengan umur mereka.
Jika
tanpa ada pendampingan orang tua atau keluarga anak akan lepas kontrol.
Anak-anak akan bebas memilih sendiri acara yang mereka senangi.padahal
anak-anak belum bisa mimilh acara mana yang baik untuk mereka, apakah
bermanfaat atau malah menyesatkan. Dan mereka cenderung menirukan apa yang dia
tonton. Sebagai contoh ketika mereka menyaksikan Ipin Upin, mereka cenderung
menirukan gaya berbicaranya ketimbang menceritakan nilai-nilai yang ada di
dalamnya. Belum lagi jika mereka menyaksikan tayangan tentang kekerasan. Karena
kekerasan dianggap keren oleh anak mereka pasti akan menirukan. Alangkah
ngerinya. Dan masih banyak tayangan-tayangan lain ayang membahayakan generasi
muda kita.
Selain
mendampingi ketika menonton,orang tua atau anggota keluarga yang lain juga
harus membatasi waktu nonton televisi. Ketika jam belajar hendaknya tv
benar-benar dimatikan. Pada umumnya orang tua hanya menyuruh anak untuk
belajar, tetapi mereka asyik menonton televisi. Mereka tidak menyadari akibat dari hal
tersebut. Meskipun anak belajar di ruang yang lain senyampang dia tahu ada yang
menonton televisi konsentrasi anak pasti terpecah. Anak juga ingin menonton
televisi bersama keluarganya. Maka belajar si anak tidak akan maksimal. Lain
halnya jika ketika jam belajar televisi dimatikan dan orang tua mendampingi
putra-putrinya belajar, anak pasti akan lebih bersemangat untuk belajar. Mereka
merasa nyaman karena mendapat perhatian orang tuanya. Sehingga orang
tahu sampai di mana kemajuan belajar putra-putrinya.
PERANAN
GURU
Dengan
meningkatnya siaran telavisi yang semakin amburadul tugas guru semakin berat.
Menurut teori pendidikan tabularasa anak terlahir dalam keadaan bersih, putih
seperti kertas. Mau diisi apa kertas tersebut adalah tugas orang-orang di
sekitarnya.
Dulu
tugas tersebut dilakukan oleh keluarga. Sekolah dan masyarakat di sekitar anak.
Sehingga tidak banyak pengaruh jelek yang diterima anak. Tetapi sekarang bukan
hanya 3 unsur di atas yang ikut mewarnai kertas putih tersebut. Siaran televisi
mmpunyai andil besar dalam memberikan warna. Dapat dikatakan bukan hanya
masyarakat yang ada di sekitar tempat tinggal anak saja yang mempengaruhi anak
tetapi melalui televisi masyarakat luar negeripun banyak mewarnai kepribadian
mereka. Anak lebih suka menirukan televisi daripada mendengarkan nasihat orang
tua atau guru.
Ketika
oarang tua tidak dapat berperan aktip dalam mengatasi dampak negatip televisi
maka gurulah yang harus aktip ambil bagian dalam hal ini. Tentu saja guru tidak
harus mendampingi siswa nonton televisi. Lalu bagaimana caranya? Ada beberapa
cara yang bisa dilakukan guru. Antara lain : Memanfaatkan tayangan televisi
sebagai bahan ajar. Banyak tayangan televisi yang bisa kita kaitkan dengan mata
pelajaran, misalnya Bahasa Indonesia kita dapat menyuruh anak menonton tayangan
berita kemudian anak disuruh menulis pokok-pokok berita untuk dipresentasikan
di hadapan teman-temannya. Dalam hal ini guru juga harus menyaksikan tayangan
tersebut supaya bisa mengoreksi tugas yang diberkan. Selain melatih siswa untuk
lebih terampil menentukan pokok-pokok berita, mengetahui peristiwa-peristiwa di
dalam maupun luar negeri juga untuk mengurangi kapasitas anak untuk melihat
tayangan lain yang kurang bermanfaat. Yang perlu menjadi catatan ketika dalam
pemberitaan tersebut ditayangkan kekerasan atau porno grafi guru harus
memberikan pengarahan supaya anak tidak menirukan hal tersebut. Tugas ini bisa
diberikan kepada siswa kelas 4,5,dan 6.
Mengontrol
acarara apa saja yang ditonton oleh anak selama satu hari. Untuk mengetahui apa
saja yang mereka tonton kita bisa menyuruh anak menuliskan pengalamannya
menonton televisi selama satu hari. Catatan anak tersebut sebagai bahan untuk
mengetahui acara apa yang paling disukai anak-anak. Setelah tahu apa yang
disukai anak-anak kita akan tepat memberikan arahan dan bimbingan.
Selain
sebagai bahan untuk memberikan bimbingan tugas ini juga mendidik mereka untuk
berkata jujur. Terutama pada siswa kelas 1,2,3. Kalau dalam catatan anak banyak
yang suka menonton film kartun misalnya, kita bisa menyuruh salah satu anak
untuk menceritakan kembali jalannya cerita supaya teman-temannya menanggapi.
Mungkin timbul pertanyaan , lalu kapan
kita mengajar? Ingat ! tugas guru tidak hanya mengajar tetapi juga mendidik.
Katakan kita kehilangan waktu 5 sampai 10 menit, tetapi banyak nilai moral yang
kita tanamkan kepada anak sehingga terbentuk karakter-karakter yang madani.
Bukankah pendidikan kita sekarang ini pendidikan berkarakter? karenanya sebagai
guru kita harus pandai-pandai menyiasati dampak negatip dari televisi.
PERAN
PEMERINTAH.
Seperti
telah ditulis di atas, pada era 70 atau 80an peranan Badan sensor yang dibentuk
pemerintah masih sangat berfungsi. Petugas-petugasnya mempunyai tanggung jawab
moral pada bangsanya, mereka betul-betul selektip dalam menyeleksi acara yang
akan ditayangkan untuk khalayak. Sehingga acara televisi maupun film layar
lebar aman ditonton oleh siapa saja. Saat itu penyensoran begitu ketat.
Bagaimana
keadaan sekarang? Masih adakah lembaga sensor? Jawabnya masih dong. Tapi apakah
masih berfungsi ? Itulah yang menjadi pertanyaan.
Sebenarnya lembaga itu
masih ada dan berfungsi. Namun fungsinya berkurang, terbukti banyak tayangan
televisi yang melanggar undang-undang pornografi lolos sensor. Sehingga kurang
etis dan tidak layak tonton. Apakah saringan di lembaga sensor kita banyak yang
jebol ?? atau undang-undang publikasinya yang terlalu longgar?? Jebolnya
saringan pada lembaga sensor mungkin diakibatkan oleh person-person yang ada di
dalamnya. Mungkin mereka belum memahami sepenuhnya bahwa tanggung jawabnya
sangat mempengaruhi karakter bangsanya. Masa depan negara ada ditangan generasi
muda. Jika moral generasi muda telah dirusak oleh tayangan-tayangan yang
memabukkan dan lolos sensor, apa jadinya bangsa dan negara ini?
Kemungkinan
lain jebolnya saringan lembaga sensor kita karena longgarnya uu publikasi dan
uu pornografi. Jika itu penyebabnya pemerintah perlu mengkaji ulang kedua undang-undang tersebut supaya masa
depan generasi muda kita terselamatkan. Selain itu pemerintah dalam hal ini
kementerian komunikasi dan informasi harus selalu mengawasi kinerja
aparat-aparatnya yang menangani langsung
pensensoran acara televisi. Jika terjadi penyimpangan segera ditindak
tegas.
Mengingat
banyaknya dampak negatip siaran televisi
terhadap moral generasi muda kita, marilah segera merapatkan barisan,
menyamakan langkah untuk meminimalisir pengaruh tersebut. Antara
keluarga,sekolah dan pemerintah harus satu kata. Apa artinya di sekolah
diarahkan tetapi keluarga membiarkan bahkan bertolak belakang. Keluarga dan
sekolah sudah sinkrun tetapi pemerintah masih meloloskan acara;acara yang
kurang mendidik, sama juga bohong.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar