Senin, 30 Januari 2017

PENINGKATAN HASIL BELAJAR MENGHUBUNGKAN DAN MENYEBUTKAN TULISAN SEDERHANA DENGAN  SIMBOL YANG MELAMBANGKANNYA DENGAN METODE CERAMAH BERVARIASI SISWA  SEMESTER II TK WARDHANA BENDO
Oleh: Sami, S.Pd
TK WARDHANA BENDO

Abstrak : Tujuan Penelitian Tindakan Kelas yang ingin dicapai oleh penulis adalah Meningkatkan pemahaman dan pengetahuan siswa mengenai menghubungkan dan menyebutkan tulisan sederhana dengan simbol yang melambangkannya " guna untuk mencapai hasil belajar yang lebih optimal, mengupayakan peserta didik khususnya siswa TK Wardhana Bendo Kec. mampu memperluas pengetahuan tentang pelajaran yang diajarkan, untuk meningkatkan kinerja guru yang aktif dalam pelaksanaan proses belajar mengajar di TK Wardhana Bendo, untuk meningkatkan mutu dan kualitas pendidikan sekolah guna lebih maju dan siswa-siswinya mampu menghadapi perkembangan jaman ilmu sesuai dengan perkembangannya saat ini. Obyek penelitian ini adalah siswa   semester II mata pelajaran pada Menghubungkan Dan Menyebutkan Tulisan Sederhana Dengan Simbol Yang Melambangkannya. Penelitian ini dilaksanakan selama 2 bulan yaitu bulan Februari 2014 sampai bulan Maret 2014. populasi yang diambil adalah Siswa   di TK Wardhana Bendo Kecamatan Bendo Kabupaten Magetan Tahun Pelajaran 2013/2014, dengan jumlah siswa Sebanyak 23 anak. Teknik pengumpulan data dilakukan dengan teknik dokumentasi. Berdasarkan pengamatan diatas diperoleh nilai rata-rata mata pelajaran pada siklus I adalah (66,56) cukup, sedangkan nilai rata-rata pada siklus II nilai rata-rata siswa meningkat mencapai (80,75) baik. Menandakan pembelajaran yang berhasil walaupun peningkatan nilai rata-rata relatif rendah. Dari peningkatan diatas penulis menarik analisa bahwa upaya meningkatkan pengetahuan "Kegiatan Jual Beli' untuk mencapai hasil belajar dengan metode Ceramah Bervariasi mata pelajaran terhadap siswa   . semester II TK Wardhana Bendo Kec. Bendo Kabupaten Magetan Tahun Pelajaran 2013/2014 telah berhasil.
Kata Kunci: menghubungkan dan menyebutkan tulisan sederhana, simbol, metode ceramah bervariasi



Tujuan pembaharuan atau inovasi pendidikan adalah meningkatkan efisiensi, relevasi, kualitas dan efektifitas, sarana serta jumlah peserta didik sebanyak-banyaknya, dengan hasil pendidikan sebesar-sebesarnya dengan menggunakan sumber, tenaga, uang, alat dan waktu dalam jumlah yang sekecil-kecilnya. Inovasi yang dilakukan pendidikan selama ini adalah mengusahakan peningkatan mutu yang dirasakan makin menurun, dengan sistem, penyampaian yang baru sehingga diharapkan peserta didik menjadi manusia yang aktif, kreatif dan terampil memecahkan masalahnya sendiri.
Pembelajaran di Sekolah sangat penting artinya dengan kemampuan ilmu pengetahuan dan teknologi yang semenjak dini dapat menunjang kreatifitas siswa dan pengetahuan yang luas. Hal yang menjadi hambatan selama ini dalam pembelajaran adalah disebabkan kurang profesionalismenya guru dalam menyampiakan pelajaran, materi jarang menggunakan alat peraga dan sumber belajar, sehingga belajar kurang menarik minat anak, dan pada gilirannya prestasi belajar kurang memuaskan. Singkatnya pembelajaran selama ini kurang aplikatif pada kejadian sehari-hari yang ada di lingkungan sekitarnya.
Agar pembelajaran menjadi Pembelajaran yang dapat meningkatkan pengetahuan dan pemahaman siswa dapat dilakukan melalui berbagai cara. Selain melalui observasi terhadap lingkungan dan mengadakan berbagai macam penelitian, untuk memperjelas pemahaman terhadap konsep pembelajaran, dapat digunakan media yang biasanya sangat dibutuhkan.
Tujuan pembelajaran di sekolah yang ingin dicapai bersifat komprehensif, artinya bukan hanya mengutamakan penambahan pengetahuan melainkan juga pembentukan keterampilan, nilai dan sikap. Untuk mencapai tujuan tersebut diperlukan suatu strategi yang memungkinkan siswa terlibat secara optimal.
Keberhasilan pendidikan bagi anak dikatakan baik apabila prestasi yang diperoleh itu memuaskan.  Dalarn kegiatan pendidikan sehari-hari dikatakan berhasil apabila dapat merubah kebiasaan. belajar siswa yang pada akhimyamenghasilkan,prestasi yang baik pula. Untuk merubah kebiasaan. belajar siswa diperlukan kesabaran, karena dijaman modern ini terutarna di era kemajuan teknologi dan perkembangan. informasi, telah tersedia beberapa sarana, antara, lain : televisi, parabola dan permainan video game yang membuat daya tarik bagi siswa, selain keterbatasan sarana, dan prasarana. yang mendukung.
Metode Ceramah Bervariasi adalah suatu penyajian bahan pelajaran dengan melalui penuturan oleh guru kepada siswa. Metode Ceramah Bervariasi merupakan cara penyajian, penyampaian bahan pelajaran dengan disertai macam-macam penggunaan metode pengajaran lain, seperti diskusi, Tanya jawab, pemberian tugas dan sebagainya.
1. Kelebihann Metode Ceramah
a.    Ekonomis, seorang guru dapat mengajar pada sejumlah besar siswa dan sedikit memerlukan peralatan.
b.    Metode  ini  paling baik  untuk  menyampaikan  bahan  yang  tidak terdapat dalam buku.
c.    Dapat menghabiskan waktu dengan baik.
d.   Metode ini baik untuk memperkenalkan suatu pokok bahasan dan menerangkan prinsip-prinsip dasar.
e.    Metode ini mengembangkan kepercayaan terhadap diri sendiri.
2.   Kelemahan Metode Ceramah Bervariasi
a.       Cenderung bersifat verbalitis artinya dapat mengatakan tetapi tidak tahu apa yang dimaksud.
b.      Guru kurang tahu apakah siswanya betul-betul mengerti
c.       Siswa sering disibukkan dengan membuat catatan, karena itu mereka kehilangan   pandangan   tentang   pokok-pokok   yang   penting   dari ceramah bervariasi.
C. Perkembangan Psiko-Fisik Siswa
Sebagian ahli menyatakan perkembangan sebagai suatu proses yang berbeda dengan pertumbuhan. Perkembangan dapat diartikan sebagai proses perubahan kualitatif yang mengacu pada mutu fungsi organ-organ jasmaniah, bukan organ-organ jasmaniahnya itu sendiri. Jadi dapat ditekankan bahwa arti perkembangan terletak pada penyempurnaan fungsi psikologis yang disandang oleh organ-organ fisik. Proses-proses perkembangan tersebut meliputi:
1.    Perkembangan Kognitif
Istilah cognitive berasal dari cognition yang padanannya knowing berati mengetahui. Dalam arti luas kognitif berarti perolehan, penataan, dan penggunaan pengetahuan (Neiser dalam muhibbin syah, 1999 : 21). Jadi perekembangan kognitif dapat diartikan sebagai fungsi perkembangan fungsi intelektual atau proses perkembangan kemampuan atau kecerdasan otak anak. Perkembangan kognitif sebagian besar bergantung pada seberapa jauh anak aktif memanipulasi dan aktif berinteraksi dengan lingkungan. Menurut Piaget dalam merespon lingkungan diperlukan proses yang aktif maupun interaksi dengan lingkungannya, selain itu juga diperlukan keseimbangan dalam penyesuaian aprekasi skema yang cocok dengan lingkungan yang direspons (Piaget dalam muhibbin syah, 14-25).
2.    Perkembangan Psikomotor
Yaitu proses perkembangan yang progresif dan berhubungan dengan perolehan aneka ragam ketrampilan fisik anak. Perkembangan fisik anak berlangsung lebih kurang selam 2 dasar warsa sejak lahir. Semua kapasitas yang dibawa anak dari rahim ibunya baik jasmani maupun rohani adalah modal dasar yang tampak selalu berfaedah bagi kelanjutan perkembangan anak.
3.    Perkembangan Sosial dan Moral
Yaitu proses perkembangan mental yang berhubungan dengan perubahan-perubahan cara anak dalam berkomunikasi dengan obyek atau orang lain, baik sebagai individu maupun kelompok. Dari upaya penumbuh kembangan sumber daya manusia melalui proses hubungan interpersonal tak mengherankan apabila seorang siswa sering menggantungkan respnnya terhadap pelajaran dikelas pada pandangannya terhadap teman-temannya sekelasnya. Positif atau negatifnya pandangan siswa pada guru dan teman-temannya sangat mempengaruhi kualitas hubungan sosial siswa dengan lingkungan kelas maupun sekolahnya.
D.  Kajian Hasil Belajar
Hasil merupakan sesuatu yang diperoleh setelah akhir dilaksanakannya suatu kegiatan, dalam hal ini kegiatan belajar. Tanpa disadari sering diucapkan kata "hasil" baik itu dalam kegiatan maupun dalam pendidikan. Dalam kenyataannya hasil yang diperoleh tiap-tiap siswa tidak sama, karena kemampuan seseorang itu tidak sama.
Sebelum penulis memberi batasan pengertian mengenai belajar, terlebih dahulu diuraikan pengertian tentang hasil belajar. Menurut W. J. S. Poerwodaminto, hasil adalah prestasi yang dicapai atau dikerjakan, sedangkan dalam buku lain juga disebutkan ialah : Bentuk nilai hasil belajar. Dari kedua pengertian diatas dapat disimpulkan bahwa, prestas belajar ialah bentuk nilai dari hasil yang telah dicapai atau dikerjakan. Dari uraian diatas maka prestasi belajar diartikan sebagai hasil yang dicapai, dilakukan, dikerjakan, dan kalau dikaitkan dengan konsep belajar tepatnya akan menjadi prestasi belajar, maka pengertian akan mengacu pada suatu hasil yang dicapai dalam hal belajar.
Sehingga pada hakikatnya belajar dalam aktifitas yang menghasilkan perubahan individu yang belajar yang mana perubahan itu pada pokoknya diperoleh kemampuan yang baru dan berlaku dalam waktu yang relatif lama dan perubahan itu terjadi karena usaha perubahan tingkah laku tersebut. Semua itu sesuai dengan tujuan belajar yang diharapkan. Sebab tujuan adalah rumusan hasil atau prestasi atau prestasi belajar yang diharapkan dari individu yang belajar setelah menyelsaikan pekerjaaanya atau setelah memperoleh suatu pengamalaman.
Metode Penelitian
Penelitian Tindakan  ni dilakukan di TK Wardhana Bendo Kabupaten Magetan Tahun Pelajaran 2013/2014, di mana dalam penelitian ini penulis melaksanakan tugas sebagai guru pengajar. Obyek penelitian ini adalah siswa   semester II mata pelajaran pada menghubungkan dan menyebutkan tulisan sederhana dengan simbol yang melambangkannya. Penelitian ini dilaksanakan selama 2 bulan yaitu bulan Februari 2014 sampai bulan Maret 2014.
Populasi dan sampel yang diambil adalah Siswa   di TK Wardhana Bendo Kec. Bendo Kabupaten Magetan Tahun Pelajaran 2013/2014, dengan jumlah siswa Sebanyak 23 anak.
Instrument Pengumpulan data dilakukan dengan menggunakan beberapa instrumen yang meliputi: a) Lembar   perencanaan   pembelajaran   mata   pelajaran   Pengetahuan   Sosial dengan menghubungkan dan menyebutkan tulisan sederhana dengan simbol yang melambangkannya; b) Analisis hasil penilaian ulangan harian setiap akhir siklus; c) Program perbaikan pengayaan; d) Lembar observasi siswa dan guru; e) Data aktivitas guru dan siswa selama proses pembelajaran, yang dikumpulkan melalui observasi / pengamatan. Instrumennya adalah lembar observasi aktivitas guru, aktivitas siswa, partisipasi siswa dalam mengikuti proses pembelajaran dan catatan lapangan.
Berdasarkan penelitian dan pengamatan diperoleh nilai rata-rata mata pelajaran pada siklus I adalah (66,56) cukup, sedangkan nilai rata-rata pada siklus II nilai rata-rata siswa meningkat mencapai (80,75) baik. Menandakan pembelajaran yang berhasil walaupun peningkatan nilai rata-rata relatif rendah. Dari peningkatan di atas penulis menarik kesimpulan bahwa upaya meningkatkan pengetahuan "Kegiatan Jual Beli' untuk mencapai hasil belajar dengan metode Ceramah Bervariasi mata pelajaran terhadap siswa  semester II TK Wardhana Bendo Kecamatan Bendo Kabupaten Magetan Tahun Pelajaran 2013/2014 telah berhasil.
 DAFTAR PUSTAKA
Arikunto, Suharsini. (19960. Prosedur Penelitian. Jakarta : Rineka Cipta.
Kurikulum   SD.   (1994).   Garis-garis   Besar  Program   Pengajaran.   Jakarta   : Derpartemen Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia.
Nur, Muhammad, dkk. (2000). Pembelajaran Ceramah Bervariasi. Surabaya : Universitiy Press.
Sudjana, (1996). Metode Statistika. Bandung : Tarsito.
Dunne dan Ted Wragg, 1996._Pembelajaran Efektif. Grasindo: Jakarta.
Rachmahdiarti, Fida, 2001. Pembelajaran Ceramah Bervariasi. DepdikBud : Jatim. Surjadi, Subianto, 1990. Strategi Belajar Mengejar . IKIP Malang : Malang
PENERAPAN METODE MODELING PARTISIPAN TERHADAP PENINGKATAN KEMAMPUAN MENGGIRING BOLA PADA PEMBELAJARAN SEPAK BOLA

Oleh: Piping Subagio
SMP Negeri 7 Bojonegoro Kab. Bojonegoro)


Abstrak: maslah dalan penelitian ini adalah upaya meningkatkan kemampuan menggiring bola pada materi pembelajaran sepak bola dengan penerapan metode Modeling Participant dalam studi pendidikan jasmani dan kesehatan di kelas VII B SMP Negeri 7 Bojonegoro. Tujuan dari penelitian ini untuk mendeskripsikan secara menyeluruh kegiatan peningkatan kemampuan siswa dalam materi pembelajaran menggiring bola pada pembelajaran sepak bola dalam studi pendidikan jasmani di kelas VII B SMP Negeri 7 Bojonegoro melalui penerapan metode Modeling Participant. Data dikumpulkan melalui observasi dengan bentuk skala Likert, dan Tes Keterampilan menggiring bola. Hasil penelitian ini diharapkan penerapan metode Modeling Participant dapat  meningkatan kemampuan siswa dalam materi pembelajaran menggiring bola pada pembelajaran sepak bola dalam studi pendidikan jasmani di kelas VII B SMP Negeri 7 Bojonegoro.
Kata kunci: Teknik dasar menggiring bola, , Metode Modeling Partisipan


Pendidikan jasmani memiliki peran yang sangat penting dalam mengintensifkan penyelenggaraan pendidikan sebagai suatu proses pembinaan manusia yang berlangsung seumur hidup. Pendidikan jasmani memberikan kesempatan pada siswa untuk terlibat langsung dalam aneka pengalaman belajar melalui aktivitas jasmani, bermain, dan berolahraga yang dilakukan secara sistematis, terarah dan terencana. Dalam kegiatan pembelajaran Pendidikan jasmani dan kesehatan sering sekali muncul beberapa kendala serta hambatan. Misalnya, siswa kurang fokus dalam materi teknik dasar menggiring bola itu bias disebabkan karena model pembelajaran yang diberikan kurang menarik minat siswa dalam menggikuti kegitan pembelajaran, sehingga siswa kurang dalam keterampilan menggiring.
Dari data pengalaman peneliti sebagai Guru SMP Negari 7 Bojonegoro dalam melaksanakan KBM perlu adanya pendekatan, variasi maupun modifikasi yang nantinya berdampak pada prestasi belajar siswa. Mengingat pentingnya siswa dalam bidang studi Pendidikan jasmani dan kesehatan sebagai tolak ukur keberhasilan belajar, maka dirasa sangat penting segera menuntaskan kendala dan hambatan yang ada. Berbagai permasalahan yang menyebabkan rendahnya tingkat keterampilan dan penguasaan siswa adalah rendahnya motivasi siswa dalam menyerap materi dan model strategi pembelajaran yang kurang diminati siswa. Untuk itu adanya pendekatan, variasi maupun modifikasi dalam pembelajaran, dan dalam penelitian ini peneliti pembelajaran mencoba menerapakan pendekatan Metode Modeling Participant untuk mengatasi kendala dan hambatan tersebut.
A.       Hakikat Pembelajaran
Pembelajaran adalah suatu usaha manusia yang dilakukan dengan tujuan membantu memfasilitasi belajar orang lain secara khusus. Pembelajaran merupakan upaya yang dilakukan guru, instruktur dan orang yang lebih mengerti dengan tujuan untuk membantu peserta didik atau siswa agar ia dapat belajar dengan mudah. Tujuan pembelajaran pada hakekatnya mengacu pada hasil yang diharapkan.Ini berarti bahwa dalam merencanakan pembelajaran, tujuan pembelajaran ditetapkan lebih dulu, selanjutnya semua kegiatan pembelajaran diarahkan untuk mencapai tujuan tersebut.
B.       Permainan Sepak Bola
Untuk bermain bola dengan baik pemain dibekali dengan teknik dasar yang baik.Pemain yang memiliki teknik dasar yang baik pemain tersebut cenderung dapat bermain sepak bola dengan baik pula. Berapa teknik dasar yang perlu dimiliki pemain sepak1bola adalah1menendang, menghentikan, menggiring, menyundul, merampas, lemparan ke dalam dan menjaga gawang
C.      Teknik Menggiring Bola
Pada dasarnya menggiring bola adalah menendang terputus-putus atau pelan-pelan,oleh karena itu bagian kaki yang dipergunakan dalam menggiring bola sama dengan kaki yang dipergunakan untuk menendang bola.Menggiring bola bertujuan antara lain untuk mendekati jarak ke sasaran, melewati lawan, dan menghambat permainan.Di bawah ini beberapa teknik dasar menggiring bola
D.      Strategi Modeling
Menurut Bandura, (dalam Nursalim, dkk, 2005 : 63 ), yang dimaksud strategi modeling adalah suatu strategi dalam konseling yang menggunakan proses belajar melalui pengamatan terhadap model dan perubahan perilaku yang terjadi karena peniruan.
Dari pendapat di atas dalam penelitian ini dapat disimpulkan bahwa strategi modeling merupakan suatu proses belajar yang mengamati model untuk merangsang individu dan perubahan tingkah laku individu dimana perubahan tingkah laku terjadi melalui proses peniruan terhadap model.
E.       Modeling Partisipan Dalam Peningkatan Kemampuan Menggiring Bola Pada Pembelajaran Sepak Bola

Ada beberapa faktor mengapa siswa kurang fokus dalam menerima materi sepak bola khususnya menggiring bola dikarenakan model pembelajaran yang diberikan kurang menarik minat siswa dalam mengikuti KBM, sehingga siswa kurang dalam keterampilan menggiring bola.
Menurut Bandura, (dalam Nursalim, dkk, 2005 : 63 ), yang bermaksud strategi modeling adalah suatu strategi dalam konseling yang menggunakan proses belajar melalui pengamatan terhadap model dan perubahan perilaku yang terjadi karena peniruan.
Dengan diberikannya strategi modeling partisipan, diharapkan siswa dapat menguasai salah satu teknik sepak bola dengan baik yaitu menggiring bola serta dapat meningkatkan kemampuan menggiring bola dalam pembelajaran sepak bola.
Metode
Jenis penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode tindakan kelas yang selanjutnya diberikan tes pada siswa yang menjadi subyek penelitian. Data hasil penelitian akan disajikan dalam bentuk diskriptif. Serta desain ini bersifat siklus yang berkelanjutan yang merupakan ciri dari penelitian tindakan kelas, penelitian ini dilaksanakan di SMP Negeri7 Bojonegoro yang mengamati untuk mengidentifikasi keadaan subyek yang akan diteliti. Setelah itu menetapkan pembelajaran berikutnya.Setelah siswa paham dan mengerti tentang pembelajaran yang sudah disampaikan maka siswa diberikan tes kemampuan siswa jika diberikan perlakuan tertentu, dalam hal ini perlakuannya adalah dengan penerapan metode modeling partisipan.
Adapun instrumen yang digunakan dalam penelitian ini adalah berikut: Tes Keterampilan menggiring bola. Keterampilan menggiring bola pada pembelajaran sepak bola adalah : a) 10 bola; b) 32 cone; c) Garis pembatas (rafia) d) Meteran; e) Stopwacth; f)Peluit; g) Lapangan sepak bola; h) Blangko dan alat tulis untuk mencatat hasil tes. Observasi (Pengamatan) menggunakan instrumen observasi dengan bentuk skala Likert. Kriteria atau kategori pensekorannya adalah: Nilai tertinggi 5 dan terendah 1. Skor 5 jika siswa dapat menggiring bola (kaki dalam, kaki luar, dan punggung kaki) dengan sangat baik, skor 4 jika siswa dapat menggiring bola (kaki dalam, kaki luar, dan punggung kaki) dengan baik, skor 3 jika siswa dapat menggiring bola (kaki dalam, kaki luar, dan punggung kaki)  dengan cukup baik, skor 2 jika siswa dapat menggiring bola (kaki dalam, kaki luar, dan punggung kaki) dengan kurang baik, dan skor 1 jika siswa dapat menggiring bola (kaki dalam, kaki luar, dan punggung kaki) dengan kurang sekali. Nilai maksimal dari penilaian praktek menggiring bolapada pembelajaran sepak bola adalah 25, dan nilai terendahnya 5.
Teknik pengumpulan data yang digunakan dalam penelitian ini adalah tes unjuk keterampilan. Data yang terdapat dalam penelitian ini adalah data mengenai hasil tes keterampilan menggiring bola, tujuan dari tes ini adalah untuk mengukur keterampilan menggiring bola pada pembelajaran sepak bola.
Data yang diperoleh dari hasil tes praktek dan pengamatan selama proses pembelajaran, dan hasil pembelajaran dianalisis dengan taknik analisis data kualitatif, analisis data penelitian dilakukan dengan menggunakan beberapa pedoman yang


dijadikan sebagai indicator dalam penganalisisan data hasil proses belajar siswa.
Untuk tes keterampilan menggiring bola pada pembelajaran sepak bola. Untuk observasi atau pengamatan menggiring bola. Teknik yang digunakan untuk mengetahui hasil tes keterampilan menggiring bola pada pembelajaran sepak bola adalah sebagai berikut:
Ketuntasan hasil tes belajar

Batasan ketuntasan yang digunakan dalam penelitian ini adalah batasan kelulusan porposiveyang mengacu pada penilaian acuan patokanartinya bila siswa mampu mencapai 71% atau lebih dinyatakan tuntas, angka 71% dari nilai 71 (nilai minimal) dibagi 100 dan dikali 100%  (Sudjana, 1991:107).

Hasil
Pada hasil deskripsi data ini hanya membahas tentang persentase ketuntasan belajar siswa untuk mengetahui seberapa besar peningkatanya, selama peneliti melakukan tindakan penerapan metodemodelling partisipan pada pembelajaran sepak bola yang sudah diajarkan, dan uraian berikut ini menyajikan hasil pengolahan dan serta interprestasinya


Tabel 4.1 Hasil Tes Tindakan
No
Perte
muan
Penilaian Kognitif
Penilaian Psikomotor
Penilaian Afektif
Rekapitulasi
1
Tes Awal
60,38%
56,07%
63,24%
59,90%
2
Siklus 1
68,76%
65,25%
70,29%
68,10%
3
Siklus 2
77,71%
73,86%
79,05%
76,88%
Untuk mengetahui perkembangan prestasi belajar siswa berikut dikemukakan rekapitulasi perkembangan prestasi belajar siswa pada akhir siklus 1 dan siklus 2 sebagaimana dapat dilihat pada tabel 4.2.
Tabel 4.2 Rekapitulasi Perkembangan Prestasi Belajar Siswa
ASPEK
HASIL REKAPITULASI
STUDI
 AWAL
SIKLUS 1
SIKLUS 2
Jumlah siswa yang tuntas
3
9
33
Jumlah siswa yang belum tuntas
32
26
2
Rarata tingkat ketuntasan
59,90%
68,10%
76,88%


a)    Ditinjau dari rerata tingkat ketuntasan belajar siswa secara individual pada tiap siklus pembelajaran terlihat ada peningkatan, dari 59,90% pada studi awal, 68,10% pada siklus 1 menjadi 76,88%  pada siklus 2.
b)   Dilihat dari jumlah siswa yang tuntas belajarnya juga ada peningkatan, dimana pada studi awal ada 3 siswa yang telah tuntas, siklus 1 ada 9 siswa yang telah tuntas dan pada siklus 2 ada 33 siswa yang telah tuntas belajarnya.
c)    Atas dasar fenomena tersebut dapat dikemukakan bahwa penggunaan metode modelling participan pada pembelajaran sepak cukup efektif untuk meningkatkan prestasi belajar siswa dalam pembelajaran teknik dasar menggiring bola pada permainan sepak bola di kelas VII-B SMP  Negeri 7 Bojonegoro.
Penerapan metode modeling partisipan pada pembelajaran sepak bola dapat meningkatkan  hasil belajar tehnik menggiring bola pada siswa-siswi kelas VII-B SMP Negeri 7 Bojonegoro. Pada hasil rerata tes awal(sebelum diberikanya perlakuan) siswa hanya mampu mencapai 59,90%, dan ditinjau dari rerata tingkat ketuntasan belajar siswa secara individual pada tiap siklus pembelajaran terlihat ada peningkatan dari 68,10% pada siklus 1 menjadi 76,88% pada siklus 2.

MODEL PEMBELAJARAN INKUIRI DALAM UPAYA MEMBANTU PESERTA DIDIK MENINGKATKAN PRESTASI DI KELOMPOK B1 SEMESTER I TK PSM 1 KAWEDANAN


Nama   : KAMSIRAH, S.Pd.
Unit Kerja: TK PSM 1 Kawedanan Kab. Magetan

Abstrak: Masalah dalam penelitian ini adalah 1) Apakah penerapan   model   pembelajaran   inkuiri   dapat membantu peserta didik dalam memahami materi Bahasa? 2) Apakah   penerapan   model   pembelajaran   inkuiri   dapat meningkatkan prestasi peserta didik TK Kelompok B1?; 3) Bagairnana penerapan model pembelajaran inkuiri mengatasi kesulitan peserta didik dalam mempelajari Bahasa?. Adapun tujuan maksud dan tujuannya adalah 1) Untuk mengetahui apakah penerapan model pembelajaran inkuiri dapat membantu peserta didik dalam memahami materi Bahasa; 2) Untuk mengetahui apakah penerapan model pembelajaran inkuiri dapat meningkatkan prestasi peserta didik TK Kelompok B1; 3)Untuk mengetahui bagaimana penerapan model pembelajaran inkuiri mengatasi kesulitan peserta didik dalam mempelajari Bahasa.
Penelitian tindakan kelas ini dilakukan di TK PSM 1 Kawedanan Kecamatan Kawedanan Kabupaten Magetan, dimana peneliti melaksanakan tugas sebagai guru. Obyek penelitian adalah kelompok B1 semester I TK PSM 1 Kawedanan Kecamatan Kawedanan Kabupaten Magetan tahun pelajaran 2014/2015. Penelitian ini dilakukan selama 2 bulan yaitu petengahan bulan Agustus sampai pertengahan bulan Oktober 2014.
Dari hasil nilai Pembelajaran pokok bahasan mengenal macam-macam fauna dengan menggunakan metode inkuiri menunjukkan prestasi belajar anak meningkat dari siklus ke siklus. Dapat diketahui bahwa hasil nilai anak yang mendapatkan bintang 4 sebelum siklus : 3 anak (12%) , siklus pertama : 5 anak (20%) dan siklus kedua : 10 anak (40%). Hal ini menunjukkan adanya peningkatan pemahaman dan prestasi belajar anak pada Pembelajaran Bahasa kelompok B1 semester I TK PSM 1 Kawedanan Kecamatan Kawedanan Kabupaten Magetan tahun pelajaran 2014/2015.
Kata Kunci: metode inkuiri, prestasi belajar



Dalam kegiatan belajar secara individu guru banyak menghadapi peserta didik yang masing-masing mendapat kesempatan yang sama dalam memperoleh bantuan atau bimbingan dari guru secara individu. Karena belajar secara individu memberikan kesempatan peserta didik belajar sesuai dengan kecepatan, cara, kemampuan dan minatnya. Hal ini sesuai dengan pendapat yang menyatakan "Prestasi belajar yang dicapai seseorang tergantung dari tingkat potensinya (kemampuan) baik yang berupa kecerdasan maupun bakat." (Rochman Natawijaya Drs. : 1983 : 25).
Karena kegiatan belajar mengajar diperlukan suatu ketekunan, keuletan berfikir serta kreatifitas yang tinggi. Jadi, selama proses belajar itu berlangsung, individu akan senantiasa berada dalam berbagai aktivitas yang tidak terlepas dari lingkungannya. Dengan demikian, belajar dipandang efektif apabila peserta didik melakukan tingkah laku secara aktif.
Hal tersebut seperti dalam belajar Bahasa tidak lain merupakan belajar Bahasa konsep. Konsep dalam Bahasa hampir selalu tersusun dari konsep lain yang mendahuluinya atau dengan kata lain bahwa dalam Bidang Pengembangan  Bahasa terdapat kejenjangan. Ini berarti suatu konsep yang tidak dipahami secara baik, akan menyulitkan pemahaman konsep berikutnya.
Pemahaman konsep dalam Bahasa diperlukan kesiapan intelektual dan pengalaman belajar terdahulu yang sesuai. Lebih lanjut (Hujodo;1979;49) menyatakan, "Karena Bahasa itu merupakan ilmu yang berstruktur dan cara memilikinya menggunakan abstraksi dan generalisasi, maka kesiapan intelektual merupakan salah satu konsep dalam Bahasa juga merupakan kesiapan intelektual untuk memahaminya".
Melihat kondisi saat ini, yang mana peserta didik masih menganggap Bahasa itu sulit, membosankan bahkan menakutkan. Maka dalam proses belajar mengajar guru harus menanamkan dan memberi pengertian pada peserta didik bahwa belajar Bahasa tidak sesulit seperti apa yang mereka bayangkan, tapi sebaliknya suatu ilmu yang semakin dalam kita pahami akan memberikan keasyikan bahkan dapat dijadikan sebagai obat stress.
Metode Inkuiri
Inkuiri adalah suatu kegiatan sesuatu dengan cara mencari kesimpulan atau menemukan, keyakinan tertentu melalui proses berpikir secara teratur, runtut dan bisa diterima akal.
Metode inkuiri merupakan kegiatan belajar mengajar dimana peserta didik dihadapkan pada masalah untuk kemudian dicari solusinya, solusi tersebut belum tentu merupakan pemecahan atas masalah yang dihadapi. Dapat juga jawaban tersebut hanya sampai pada tingkat menemukan hal - hal yang menyebabkan timbulnya masalah tersebut. Dan inilah yang membedakan metode inkuiri dengan metode pemecahan masalah (Problem Solving) yang lebih menitik beratkan pada pemecahan masalah yang dihadapi oleh peserta didik.
Kegiatan inkuiri dapat dilakukan secara perorangan, kelompok ataupun seluruh kelas, baik dilakukan didalam maupun diluar kelas. Inkuiri dapat dilakukan dengan berbagai cara seperti diskusi antar peserta didik, berbagi dan bertanya antara guru dengan peserta didik, dan sebagainya.
Pelaksanaan inkuiri dapat dimaksudkan untuk mencari jawaban tertentu yang sudah pasti ataupun kemungkinan pilihan atau alternatif jawaban atas masalah tertentu. Penggunaan metode inkuiri bertujuan untuk;
1.  Mengembangkan sikap, kepercayaan, keterampilan peserta didik dalam memecahkan masalah atau memutuskan sesuatu secara tepat.
2.  Mengembangkan kemampuan berpikir peserta didik agar lebih tanggap, cepat dan nalar.
3.  Membina dan mengembangkan sikap ingin lebih tahu lebih jauh dan mengungkapkan aspek pengetahuan maupun sikap.
Tinjauan Prestasi Belajar
Seseorang dikatakan berprestasi bila ia dapat mencapai suatu hasil yang maksimal dari apa yang telah dilakukan. Kata prestasi yang terdapat pada kamus umum Bahasa Indonesia "Prestasi adalah hasil yang telah dicapai" (W,J,S. Poerwadarminto 1976 : 768).
Menurut Anwar (1976 : 16) prestasi belajar adalah kemampuan aktual seseorang sebagai hasil belajar yang dapat diukur dengan mengadakan test. Karena faktor pertumbuh dan faktor kesempatan tiap anak sama, sehingga kalau digabungkan dengan kegiatan belajar anak di sekolah adalah kecakapan nyata secara maksimal sebagai hasil dari kegiatan belajar.
Pengertian belajar pada hakekatnya memang terdapat bermacam-macam. Maka peneliti menggabungkan dari beberapa ahli antara lain : Belajar adalah suatu perubahan tingkah laku sebagai hasil dari pengalaman yang lalu, perubahan yang dapat diamati pada perkembangan sejak lahir sampai mati adalah dari proses belajar. Belajar adalah:1) Belajar membawa perubahan; 2) Perubahan itu pada hakekatnya terjadi karena adanya usaha yang disengaja; 3) Dengan   adanya   usaha   belajar   diharapkan   tercapai   hasil   belajar   yang maksimal.
Jadi suatu perubahan tertentu baik yang berupa pengetahuan, keterampilan maupun perubahan tingkah laku dan sikap tertentu dari semula yang tidak dimilikinya. Dalam hal ini Sujianto (1981:21) menyatakan: pada hakekatnya belajar adalah suatu proses perubahan yang terus menerus pada diri anak didik, karena usaha mencapai kehidupan atas bimbingan-bimbingan tentang cita-citanya dan sesuai dengan cita-citanya, falsafah hidupnya. Higlaid sebagaimana dikutib dan diterjemahkan oleh S Nasution (1982 : 36) mengatakan : Belajar adalah melakukan atau mengubah suatu kegiatan melalui jalan latihan (apakah dalam laboraturiun atau dalam lingkungan alamiah) yang dibedakan dari perubahan-perubahan faktor-faktor yang tidak termasuk latihan. Selanjutnya Winkel (1983:15) mengatakan : Belajar pada manusia merupakan suatu prose psikis yang berlangsung dalam interaksi aktif subyek dengan lingkungannya dan menghasilkan perubahan-perubahan dalam pengalaman, keterampilan, nilai dan sikap yang bersifat konstan atau menetap.
Perubahan-perubahan itu dapat berupa sesuatu yang baru, yang segera nampak dalam perilaku nyata atau masih tinggal tersembunyi. Mungkin juga perubahan hanya berupa penyempurnaan terhadap hal yang sudah pernah dipelajari. Suatu penyesuaian secara umum bahwa terdapat perubahan dalam belajar itu. Perubahan itu nampak suatu kecakapan, pengetahuan, pengertian atau cara berfikir nilai dan sikap. Jelas bahwa orang yang belajar tidak sama keadaannya sebelum ia melakukan perubahan belajar. Ia akan merasa bahagia, menjadi lebih pandai mencari jalan keluar dalam pemecahan masalah-masalah yang dihadapi.
Perubahan belajar ini juga merupakan proses sadar atau setidak-tidaknya dapat menjadi sadar dan perubahan-perubahan itu merupakan aspek kepribadian yang berfungsi terus menerus sehingga pengalamannya tidak bersifat statis namun tetap dinamis. Setiap macam kegiatan belajar menghasilkan suatu perubahan yang khas, yaitu hasil belajar. Hasil belajar tampak dalam suatu prestasi yang diperoleh peserta didik dan prestasi merupakan suatu pernyataan atau perbuatan yang maksimal.
Tinjauan Tentang Bahasa
Bahasa sering kali dilukiskan sebagai kumpulan sistem yang mempunyai struktur masing-masing dengan unsur yang tidak didefinisikan. Bahasa dipandang sebagai struktur hubungan yang memerlukan symbol formal, simbol itu membantu memanipulasi aturan-aturan yang beroperasi dalam struktur.
Johnson dan Rising ( dalam Suherman, 1992 : 120 ) mendefinisikan Bahasa sebagai berikut: ”Bahasa adalah pola berfikir, pola mengorganisasikan, pembuktian yang logik.” Bahasa adalah bahasa yang menggunakan istilah yang didefinisikan dengan cermat, jelas dan akurat, representatifnya dengan simbol. Beberapa pengertian tentang Bahasa diatas memberikan petunjuk bahwa belum ada kesepakatan mengenai definisi Bahasa secara jelas.
Masih banyak definisi-definisi tentang Bahasa, tetapi tidak satupun perumusan yang dapat diterima secara umum. Untuk memahami hakikat Bahasa, seseorang harus mencoba mempelajari sendiri ilmu Bahasa yaitu dengan cara mempelajari, mengkaji dan mengerjakannya. Dengan demikian seseorang akan lebih dapat memahami apa arti dari Bahasa itu.
Berkaitan hal tersebut, Ruseffendi (1995 ; 60) mengemukakan bahwa Bahasa itu merupakan suatu ilmu yang berhubungan dengan penelaahan bentuk-bentuk atau struktur-struktur yang abstrak dan hubungan diantara hal-hal itu Bahasa dimulai dari unsur-unsur yang tidak didefinisikan terus ke aksioma atau postulat sampai ke dalil atau teorema.
Metode Penelitian
Penelitian tindakan kelas ini dilakukan di TK PSM 1, di mana peneliti melaksanakan tugas sebagai kepala sekolah dan guru TK tersebut. Obyek penelitian adalah peserta didik Kelompok B1 semester I TK PSM 1 Kawedanan Kecamatan Kawedanan Kabupaten Magetan tahun pelajaran 2014/2015. Penelitian ini dilakukan selama 2 bulan yaitu petengahan bulan Agustus sampai pertengahan bulan Oktober 2014.
Populasi dan sampel dalam penelitian ini adalah peserta didik Kelompok B1 semester I TK PSM 1 Kawedanan Kecamatan Kawedanan Kabupaten Magetan yang berjumlah 25 peserta didik. Dan dalam penelitian tindakan kelas ini peneliti menggunakan metode dokumentasi dan observasi, karena peneliti merasa bahwa metode ini sangat tepat untuk pelaksanaan penelitian ini.
Metode dokumentasi merupakan metode pengumpulan data melalui penglihatan dan pemeriksanaan dokumen-dokumen atau catatan-catatan yang berhubungan dengan permasalahan yang akan dipecahkan dalam penelitian. Setelah melakukan metode dokumentasi ini, peneliti memperoleh data prestasi belajar peserta didik yang diperoleh pada tes awal dalam penelitian ini.
Metode observasi adaiah metode pengumpulan data melalui pengamatan. Metode observasi ini dilakukan oleh kolaboran pada saat proses belajar mengajar berlangsung. Dan yang menjadi sasaran dalam observasi ini adalah guru dan peserta didik.
Analisa dilakukan berdasarkan panduan penilaian kemampuan dasar anak yaitu :
1.    ★★★★ (Bintang 4) apabila anak sangat mampu dalam melaksanakan tugas yang diberikan oleh guru.
2.    ★★★ (Bintang 3) apabila anak telah mampu melaksanakan tugas dari guru tanpa dibantu oleh teman ataupun guru.
3.    ★★ (Bintang 2) apabila anak mampu melaksanakan tugas tetapi masih memerlukan bantuan guru.
4.    (Bintang 1) apabila anak belum mencapai apa yang diharapkan, tetapi anak sudah melaksanakan tugas.
Pelaksanaan penelitian ini berbentuk siklus yang terdiri dari 2 siklus yang masing-masing meliputi: Planning, Acting, Observing dan Reflecting. Tiap siklus dilaksanakan sesuai dengan tujuan yang ingin dicapai. Permasalahan yang belum  dapat dipecahkan dalam siklus pertama direfleksikan bersama Tim peneliti dalam suatu pertemuan kolaborasi, untuk mencari penyebabnya, selanjutnya peneliti merencanakan berbagai langkah perbaikan untuk diterapkan pada siklus kedua.
Peneliti menganalisa data hasil pengamatan selama proses belajar mengajar pada siklus pertama bahwa masih rendahnya hasil belajar peserta didik TK Kelompok B1  pada semester I yaitu sebelum siklus diperoleh  hasil, anak yang mendapatkan bintang 4 sejumlah 3 anak (12%) dan pada siklus pertama meningkat menjadi 5 anak (20%). Hal tersebut menunjukkan bahwa aktifitas dan prestasi belajar peserta didik masih rendah dan belum mendapatkan hasil yang optimal.
Data  hasil pengamatan selama proses belajar mengajar pada siklus kedua sebagai berikut: nilai bintang 4 sebanyak 3 anak (12%), siklus pertama meningkat menjadi 5 anak (20%), dan pada siklus kedua meningkat lagi menjadi 10 anak (40%). Hal ini menujukkan bahwa aktifitas dan prestasi belajar peserta didik meningkat dengan hasil yang sudah optimal.
Proses Analisis Data
Untuk mengetahui hasil belajar peserta didik maka proses analisis data yang perlu diadakan adalah sebagai berikut :
Reduksi nilai data
Sebelum Siklus
No.
Skor
Kriteria
Juml
1.
★★★★
Sangat mampu
3
2.
★★★
Mampu tanpa bantuan guru/ teman
6
3.
★★
Mampu dengan bantuan guru/ teman
11
4.
Belum mampu
5
·         Siklus I (Pertama)
No.
Skor
Kriteria
Jumlah
1.
★★★★
Sangat mampu
5
2.
★★★
Mampu tanpa bantuan guru/ teman
7
3.
★★
Mampu dengan bantuan guru/ teman
10
4.
Belum mampu
3

·         Siklus II (Kedua)
No.
Skor
Kriteria
Jumlah
1.
★★★★
Sangat mampu
10
2.
★★★
Mampu tanpa bantuan guru/ teman
8
3.
★★
Mampu dengan bantuan guru/ teman
7
4.
Belum mampu
0
Paparan data
Penganalisisan data dari sebelum siklus sampai dengan siklus kedua atau siklus akhir penulis dapat menyajikan data yang diperoleh sebagai berikut:
·      Anak yang mendapatkan nilai ★★★★ (bintang 4)
Kenaikan siklus Ke I       =      5 – 3 = 2 (8%)
Kenaikan siklus Ke II     =      10 – 5 = 5 (20%)
Rata-rata Siklus I dan II =
=  = 3,5 (14%)
Sesuai hasil penganalisisan data pelaksanaan siklus penelitian yang telah dijalankan dari sebelum siklus sampai siklus terakhir diperoleh kenaikan nilai rata-rata hasil belajar peserta didik TK Kelompok B1 yang mendapat bintang 4 pada Bidang Pengembangan  Bahasa yaitu pada siklus pertama diperoleh rata-rata sebanyak 8% dan pada siklus kedua diperoleh rata-rata sebanyak 20%. Peneliti menyimpulkan bahwa dari pelaksanaan siklus penelitian yang telah dijalankan menunjukkan ada peningkatan rata-rata hasil belajar peserta didik sebesar 14%.