IMPLEMENTASI PEMBELAJARAN
TEMATIK TERPADU
DENGAN PENDEKATAN SCIENTIFIC
Oleh : Aprilya Teguh Rahayu, S.Pd
Guru SD Negeri Ngariboyo 1 Peserta Diklat
Kurikulum 2013 Provinsi Jatim
A.
Pendahuluan
Inovasi
pendidikan di bidang kurikulum diharapkan secara
periodik dapat dilakukan
untuk kepentingan mengubah dan memperbaiki cara belajar dan membelajarkan
materi kepada peserta didik. Kurikulum dilaksanakan dengan menegakkan kelima
pilar belajar, yaitu: (a) belajar untuk beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang
Maha Esa, (b) belajar untuk memahami dan menghayati, (c) belajar untuk mampu
melaksanakan dan berbuat secara efektif, (d) belajar untuk hidup bersama dan
berguna bagi orang lain, dan (e) belajar untuk membangun dan menemukan jati
diri, melalui proses pembelajaran yang aktif, kreatif, efektif, dan
menyenangkan, dengan mengedepankan peserta didik
aktif.
Pembelajaran
dimaksud diharapkan yang memungkinkan peserta didik mendapat pelayanan yang
bersifat perbaikan, pengayaan, dan/atau percepatan sesuai dengan potensi, tahap
perkembangan, dan kondisi peserta didik
dengan tetap memperhatikan keterpaduan pengembangan pribadi peserta
didik yang berdimensi ke-Tuhanan, keindividuan, kesosialan, dan moral.
Kualitas
pendidikan sangatlah bergantung pada kesadaran, pengertian, komitmen, dan partisipasi serta dedikasi dari para pendidik
dan tenaga kependidikan, terutama guru sebagai ujung tombak
yang secara langsung menghadapi peserta didik. Apabila guru dapat menciptakan proses pembelajaran yang dapat mengubah hasil belajar peserta didik, dan
dapat meningkatkan motivasi belajar, yang dapat
meningkatkan rasa percaya diri peserta didik, dapat meningkatkan harga diri
dengan menerapkan berbagai strategi dan model pembelajaran, maka visi dan misi
guru sebagai pembelajar boleh dikatakan berhasil.
Proses
pembelajaran merupakan fenomena yang kompleks. Guru lebih banyak berhubungan
dengan pola pikir peserta didik di mana setiap peserta didik – siapa pun,
dimana pun - memiliki setumpuk kata, pikiran, tindakan yang dapat mengubah
lingkungan baik di keluarga, di sekolah maupun di masyarakat.
Mulai tahun ajaran baru 2013
pola pembelajaran segera
disosialisasikan bagi guru
kelas I
sampai dengan kelas VI, menggunakan Pembelajaran Tematik Terpadu. Di lapangan begitu beragam nuansa tematik ini sejak digulirkan di kalangan guru, dan sekolah, sepertinya terjadi suatu “kerancuan”,
dan perbedaan pemahaman. Guru banyak yang berpikir dan bertanya-tanya, apakah selama ini cara
pembelajaran yang dirasakanya sudah menghasilkan lulusan peserta didik “berprestasi”, dan sudah mencetak serta
menghasilkan dokter, insinyur, birokrat dianggap kurang
berhasil?. Sehingga ada ungkapan bahwa “saya sudah mengajar puluhan tahun, dan
saya sudah mempunyai alumni yang berhasil menjadi pejabat, menjadi dokter,
menjadi insinyur dan sebagainya dianggap tidak berhasil?. Pemikiran-pemikiran
semacam ini akan menjadi penghambat bagi bergulirnya sebuah inovasi dalam
bidang pendidikan.
Pembelajaran
dengan menggunakan berbagai pendekatan, strategi dan metode diharapkan dapat
memberi kemungkinan peserta didik mendapat pelayanan yang bersifat perbaikan,
pengayaan, dan/atau percepatan sesuai dengan potensi, tahap perkembangan, dan
kondisi peserta didik dengan tetap
memperhatikan keterpaduan pengembangan pribadi peserta didik yang berdimensi
ke-Tuhanan, keindividuan, kesosialan, dan moral.
Pembelajaran
yang diciptakan baik di kelas maupun di luar kelas diharapkan dapat dikondisikan dalam suasana hubungan peserta didik dan guru yang saling menerima dan menghargai,
akrab, terbuka, dan hangat, dengan prinsip tut wuri handayani, ing madia
mangun karsa, ing ngarsa sung tulada (di belakang memberikan daya dan kekuatan,
di tengah membangun semangat dan prakarsa, di depan memberikan contoh dan
teladan). Terlebih bagi peserta didik sekolah dasar yang masih berada di Kelas 1, 2 dan 3, yang masih memerlukan bimbingan, dan
perhatian, sebagaimana pelayanan para orang tua yang
dengan kasih sayang membimbing mereka. Sedangkan di
Kelas 4, 5, dan 6 mulai ditingkatkan pemahaman peserta didik untuk lebih
memahami hidup dan kehidupan di lingkungan sekitar dengan menciptakan pola
berpikir rasional. Mencari jawaban mengapa harus belajar membaca dan menulis?
Mengapa harus belajar matematika, mengapa harus berinterakti dan saling
berkomunikasi dengan teman dan sebagainya. Dengan pembelajaran tematik Terpadu
diharapkan dapat menjawab ke semuanya
itu dengan catatan guru dan peserta didik memiliki komitmen dan selalu berpikir
positif bahwa pola pembelajaran yang dilakukan adalah menuju ketercapaian
kompetensi sebagaimana yang dituangkan di dalam standar kelulusan.
Pelaksanaan
pembelajaran seyogyanya dengan menggunakan pendekatan multistrategi dan
multimedia, sumber belajar dan teknologi yang memadai, dan memanfaatkan
lingkungan sekitar sebagai sumber belajar, dengan prinsip alam takambang. Jadi guru (semua yang
terjadi, tergelar dan berkembang di masyarakat dan lingkungan sekitar serta lingkungan
alam semesta dijadikan sumber belajar, contoh dan teladan). Sebuah model
pembelajaran diharapkan dapat dipergunakan sebagai wawasan untuk disesuaikan
dengan kondisi peserta didik di masing-masing sekolah.
Peserta didik
perlu dipersiapkan baik secara internal maupun eksternal, baik ketika di dalam kelas maupun di luar kelas.
Terlebih bagi peserta didik yang masih berada di sekolah
dasar
tentu saja tidak
dapat disamakan pelayannya dengan peserta didik yang ada di kelas menengah. Namun demikian baik
peserta didik di kelas 1 sampai dengan kelas 6 di kondisikan menggunakan
pendekatan tematik Terpadu dengan tema sebagai pemersatunya.
B. Pengertian pembelajaran
Tematik Terpadu
Pembelajaran Tematik Terpadu
dilaksanakan dengan menggunakan prinsip pembelajaran terpadu. Pembelajaran
terpadu menggunakan tema sebagai pemersatu kegiatan pembelajaran yang memadukan
beberapa mata pelajaran sekaligus dalam satu kali tatap muka, untuk memberikan
pengalaman yang bermakna bagi peserta didik. Karena peserta didik dalam
memahami berbagai konsep yang mereka pelajari selalu melalui pengalaman
langsung dan menghubungkannya dengan konsep lain yang telah dikuasainya.
Pelaksanaan pembelajaran Tematik
Terpadu berawal dari tema yang telah dipilih/dikembangkan oleh guru yang sesuai
dengan kebutuhan peserta didik. Jika dibandingkan dengan pembelajaran
konvensional pembelajaran tematik ini tampak lebih menekankan pada Tema sebagai
pemersatu berbagai mata pelajaran yang lebih diutamakan pada makna belajar, dan keterkaitan berbagai konsep mata pelajaran.
Keterlibatan peserta didik dalam belajar
lebih diprioritaskan dan pembelajaran yang bertujuan mengaktifkan peserta
didik, memberikan pengalaman langsung serta
tidak tampak adanya pemisahan antar mata pelajaran satu dengan lainnya.
C.
Fungsi dan Tujuan
Pembelajaran
tematik terpadu
berfungsi untuk memberikan kemudahan bagi peserta didik dalam memahami dan
mendalami konsep materi yang tergabung dalam tema serta dapat menambah semangat
belajar, karena materi yang dipelajari merupakan materi yang nyata
(kontekstual) dan bermakna bagi peserta didik.
Tujuan
pembelajaran tematik terpadu adalah:
1. Mudah memusatkan
perhatian pada satu tema atau topik tertentu
2. Mempelajari pengetahuan dan
mengembangkan berbagai kompetensi mata pelajaran dalam tema yang sama
3. Memiliki pemahaman terhadap materi pelajaran
lebih mendalam dan berkesan
4. Mengembangkan kompetensi berbahasa lebih
baik dengan mengkaitkan berbagai mata pelajaran lain dengan pengalaman pribadi
peserta didik
5. Lebih bergairah belajar karena mereka
dapat berkomunikasi dalam situasi nyata, seperti: bercerita, bertanya, menulis
sekaligus mempelajari pelajaran yang lain.
6. Lebih
merasakan manfaat dan makna belajar karena materi yang disajikan dalam
konteks tema yang jelas
7. Guru
dapat menghemat waktu, karena mata pelajaran yang disajikan secara
terpadu dapat dipersiapkan sekaligus dan diberikan dalam 2 atau 3 pertemuan
bahkan lebih dan atau pengayaan.
8. Budi pekerti dan moral peserta didik
dapat ditumbuh kembangkan dengan mengangkat sejumlah nilai budi pekerti sesuai
dengan situasi dan kondisi.
D. Ciri-ciri Pembelajaran Tematik Terpadu
1.
Berpusat pada anak
2.
Memberikan pengalaman langsung pada anak
3.
Pemisahan antara mata pelajaran tidak begitu
jelas (menyatu dalam satu pemahaman dalam kegiatan)
4.
Menyajikan konsep dari berbagai mata
pelajaran dalam satu proses pembelajaran (saling terkait antara mata pelajaran
yang satu dengan lainnya)
5.
Bersifat luwes (keterpaduan berbagai mata
pelajaran)
6.
Hasil pembelajaran dapat berkembang sesuai
dengan minat dan kebutuhan anak (melalui penilaian proses dan hasil belajarnya)
E. Kekuatan Tema dalam
Proses Pembelajaran
Anak pada usia sekolah dasar berada pada tahapan operasi konkret, mulai menunjukkan
perilaku yang mulai memandang dunia
secara objektif, bergeser dari satu aspek situasi ke aspek lain secara
reflektif dan memandang unsur-unsur secara serentak, mulai berpikir secara operasional,
mempergunakan cara
berpikir operasional untuk mengklasifikasikan benda-benda, membentuk dan mempergunakan keterhubungan aturan-aturan, prinsip ilmiah
sederhana, dan mempergunakan hubungan sebab akibat. Oleh karena itu
pembelajaran yang tepat adalah dengan mengaitkan konsep materi pelajarn dalam
satu kesatuan yang dipusat pada tema adalah yang paling sesuai. Dan kegiatan pembelajaran akan bermakna
jika dilakukan dalam lingkungan yang nyaman dan memberikan rasa aman, bersifat
individual dan kontekstual, anak mengalami langsung yang dipelajarinya, hal ini akan
diperoleh melalui pembelajaran tematik. Pembelajaran yang menggunakan tema
untuk mengaitkan beberapa mata pelajaran sehingga dapat memberikan pengalaman bermakna kepada siswa.
Dari penjelasan diatas maka pembelajaran tematik memiliki beberapa kekuatan dan
keuntungan antara lain:
1.
Memberikan pengalaman dan kegiatan belajar mengajar yang
relevan dengan tingkat perkembangan dan kebutuhan anak
2.
Menyenangkan karena bertolak dari minat dan kebutuhan
anak
3.
Hasil belajar dapat bertahan lama karena lebih berkesan
dan bermakna
4.
mengembangkan keterampilan berpikir anak sesuai dengan
permasalah an yang dihadapi
5.
Menumbuhkan keterampilan sosial dalam bekerja sama
6.
Memiliki sikap toleransi, komunikasi dan tanggap terhadap
gagasan orang lain, dalam arti respek terhadap gagasan orang lain.
7.
Menyajikan kegiatan yang bersifat pragmatis sesuai dengan
permasalah an yang sering ditemui dalam lingkungan anak.
F.
Peran Tema dalam Proses Pembelajaran
Tema berperan
sebagai pemersatu kegiatan pembelajaran, dengan memadukan beberapa mata
pelajaran sekaligus. Adapun mata pelajaran yang dipadukan adalah mata pelajaran
Agama (Akhlak Mulia/Budi Pekerti/ tata krama), PPKn dan Kepribadian, Ilmu Pengetahuan dan Teknologi
(terdiri atas: Bahasa Indonesia, IPS, IPA, Matematika,), Estetika (Seni Budaya-Keterampilan) dan
Pendidikan Jasmani, Olah Raga dan Kesehatan.
Di dalam
struktur Kurikulum Sekolah Dasar dan Madrasah Ibtidaiyah disebutkan bahwa untuk peserta didik
kelas 1, sampai dengan kelas 6 penyajian
pembelajarannya menggunakan pendekatan tematik. Penyajian pembelajaran dengan
alokasi waktu komulatif 30 JP per minggu.
Pembuatan tema
diharapkan memperhatikan kondisi peserta didik, lingkungan sekitar dan
kompetensi guru dengan prosentase penyajian disesuaikan
dengan aloasi waktu yang tersedia.
Guru dalam penyajian diharapkan tidak terkonsentrasi pada salah satu mata
pelajaran, melainkan harus tetap memperhatikan prosentase penyajianya. Namun
demikian penjadwalan dalam hal ini tidak terbagi secara kaku
melainkan diatur secara luwes.
Mata Pelajaran
Agama yang disajikan secara terpadu adalah yang sifatnya budi pekerti luhur,
akhlak mulia dan tata krama serta bagaimana bersopan santun dalam pergaulan di
dalam keluarga dan masyarakat, keterkaitan dengan pendidikan
karakter bangsa. Sedangkan untuk
materi-materi yang sifatnya aqidah dan khusus keagamaannya sisajikan oleh guru
agama sendiri.
Demikian juga
untuk Pendidikan Jasmani dan kesehatan, yang sifatnya gerakan ringan yang dapat
disajikan di dalam kelas, bisa dilakukan oleh guru kelas. Sedangkan yang
sifatnya gerakan olah raga yang memerlukan fisik,
gerakan bebas, tetap dilakukan oleh guru olah raga dan
dilaksanakan di luar kelas/ lapangan olah raga.
Pembelajaran
tematik diawali dengan pembuatan tema selama satu tahun, kemudian dengan
tema-tema yang telah dibuat tersebut, guru menganalisis semua standar
kompetensi lulusan yang diturunkan ke dalam kompetensi inti dan selanjutnya
mengalir ke kompetensi dasar
dan membuat indikator dari masing-masing mata pelajaran yang ada di setiap kelas. Setelah itu dibuat hubungan antara KD dan indikator
dengan tema yang telah disiapkan selama satu tahun. Berikutnya dari pemetaan hubungan tersebut dilanjutkan dengan
membuat jaringan KD & indikator dari setiap tema yang telah dibuat. Setelah
jadi semua jaringan selama satu tahun dilanjutkan dengan menyusun silabus
tematik dan yang terakhir menyusun Rencana Pelaksanaan Pembelajaran Tematik.
G. Model Pembelajaran
Tematik Terpadu
Model pembelajaran tematik integratif
melalui beberapa tahapan yaitu
pertama guru harus mengacu pada tema sebagai pemersatu berbagai
mata pelajaran untuk satu tahun.
Kedua guru melakukan analisis standar
kompetensi lulusan, kompetensi
inti, kompetensi dasar dan membuat
indikator dengan tetap memperhatikan muatan
materi dari Standar Isi, ketiga membuat hubungan antara
kompetensi dasar, indikator dengan tema, keempat
membuat jaringan KD, indikator, kelima menyusun silabus
tematik dan keenam membuat rencana pelaksanaan pembelajaran
tematik dengan mengkondisikan pembelajaran yang menggunakan pendekatan
scientific.
Untuk
lebih jelasnya akan dibahas di bawah ini.
1.
Kriteria Pemilihan Tema
Beberapa tema telah
disiapkan menyertai dokumen Kurikulum 2013, namun demikian penulisan daftar
tema dimaksud bukanlah urutan penyajajian Guru diharapkan dapat dengan cerdas
dan tepat melakukan pemilihan tema mana yang akan dibelajarkan terlebih dahulu,
seyogyanya penetapan tema sesuai dengan kondisi daerah, sekolah, peserta didik,
dan guru di wilayahnya. Penentuan dan pemilihan
tema yang akan dikembangkan di sekolah
dasar
dapat mempertimbangkan
kriteria pembuatan tema sebagai berikut :
- tema tidak terlalu luas namun dapat dengan mudah dipergunakan untuk memadukan banyak mata pelajaran
- Tema bermakna, artinya bahwa tema yang dipilih untuk dikaji harus memberikan bekal bagi peserta didik untuk belajar selanjutnya
- Harus sesuai dengan tingkat perkembangan psikologis anak
- Tema yang dikembangkan harus mampu mewadahi sebagian besar minat anak di sekolah
- Tema yang dipilih hendaknya mempertimbangkan peristiwa-peristiwa otentik yang terjadi di dalam rentang waktu belajar
- Mempertimbangkan dilanjutkan kan kurikulum yang berlaku dan harapan masyarakat terhadap hasil belajar peserta didik
- mempertimbangkan ketersediaan sumber belajar
2.
Tahapan
Berpikir Pembelajaran Tematik Adalah Struktur Kurikulum
Struktur Kurikulum 2013 merupakan acuan dalam
merancang pembelajaran yang akan menjdi
landasan penetapan prosentase penyajian pembelajaran. Di Kelas I sampai dengan
Kelas VI membelajarkan materi dengan tema sebagai pemersatunya, tidak parsial
per mata pelajaran. penetapan alokasi waktu dimaksudkan agar guru dapat
mempertimbangan batasan pembahasan, supaya tidak lagi fokus atau berlama-lama
pada salah satu mata pelajaran saja. Meskipun telah dituangkan alokasi waktu di
dalam struktur masing-masing mata pelajaran, namun tetap menjadi satu kesatuan
per minggu komulatif 30 JP untuk Kelas
I, berarti per hari 5 JP. Untuk Kelas II komulatif satu minggu 32 JP maka per hari ada yang 5 JP, ada
yang 6 JP. Kelas III komulatif satu
minggu 34 JP, maka per hari ada yang 5 JP, ada yang 6 JP. Sedangkan
Kelas IV sampai dengan Kelas VI komulatif satu minggu 36 JP, jadi rata-rata per
harinya 6 JP, bagi sekolah reguler.
Struktur Kurikulum sebagai di berikut:
Struktur
Kurikulum SD/MI
MATA PELAJARAN
|
ALOKASI
WAKTU BELAJAR
PER
MINGGU
|
||||||
I
|
II
|
III
|
IV
|
V
|
VI
|
||
Kelompok A
|
|||||||
1.
|
Pendidikan Agama dan Budi Pekerti
|
4
|
4
|
4
|
4
|
4
|
4
|
2.
|
Pendidikan Pancasila dan Kewarganegaraan
|
5
|
6
|
6
|
4
|
4
|
4
|
3.
|
Bahasa Indonesia
|
8
|
8
|
10
|
7
|
7
|
7
|
4.
|
Matematika
|
5
|
6
|
6
|
6
|
6
|
6
|
5.
|
Ilmu Pengetahuan Alam
|
-
|
-
|
-
|
3
|
3
|
3
|
6.
|
Ilmu Pengetahuan Sosial
|
-
|
-
|
-
|
3
|
3
|
3
|
Kelompok B
|
|||||||
1.
|
Seni Budaya dan Prakarya
(termasuk muatan lokal)*
|
4
|
4
|
4
|
5
|
5
|
5
|
2.
|
Pendidikan Jasmani, Olah Raga dan Kesehatan
(termasuk muatan lokal)
|
4
|
4
|
4
|
4
|
4
|
4
|
Jumlah Alokasi Waktu Per Minggu
|
30
|
32
|
34
|
36
|
36
|
36
|
|
3.
Beban
Belajar
Beban belajar dinyatakan dalam jam
belajar setiap minggu untuk masa belajar selama satu semester. Beban belajar di
SD/MI kelas I, II, dan III masing-masing 30, 32, 34 sedangkan untuk kelas IV,
V, dan VI masing-masing 36 jam setiap minggu. Jam belajar SD/MI adalah 35
menit.
Dengan adanya tambahan jam belajar
ini dan pengurangan jumlah Kompetensi Dasar, guru memiliki keleluasaan waktu
untuk mengembangkan proses pembelajaran yang berorientasi peserta didik aktif. Proses pembelajaran peserta didik aktif
memerlukan waktu yang lebih panjang dari proses pembelajaran penyampaian
informasi karena peserta didik perlu
latihan untuk mengamati,menanya, mengasosiasi, dan berkomunikasi. Proses
pembelajaran yang dikembangkan menghendaki kesabaran guru dalam mendidik peserta
didik sehingga mereka menjadi tahu, mampu dan mau belajar dan menerapkan apa
yang sudah mereka pelajari di lingkungan sekolah dan masyarakat sekitarnya.
Selain itu bertambahnya jam belajar memungkinkan guru melakukan penilaian
proses dan hasil belajar. Sekolah mendapat
kesempatan mengkondisikan beban belajar sesuai hasil kesepakatan warga
sekolah, Kepala Sekolah, Guru, dan Komite Sekolah.
a.
Tahapan
Pembelajaran Tematik Terpadu
Langkah Guru yang akan membelajarkan materi
dengan menggunakan pendekatan tematik
integratif antara lain:
1) Memilih/Menetapkan Tema
Dibawah
ini adalah Tema untuk peserta didik
Sekolah Dasar kelas I dan IV
Tema-Tema di
Sekolah Dasar
KELAS I
|
KELAS IV
|
1.
Diriku
2.
Kegemaranku
3.
Kegiatanku
4.
Keluargaku
5.
Pengalamanku
6.
Lingkungan Bersih dan Sehat
7.
Benda, Binatan dan Tanaman di Sekitar
8.
Peristiwa alam
|
1. Indahnya Kebersamaan
2. Selalu Berhemat Energi
3. Peduli Makhluk Hidup
4. Berbagai Pekerjaan.
5. Menghargai Jasa Pahlawan
6. Indahnya Negeriku
7. Cita-citaku
8. Daerah Tempat Tinggalku
9.
Makanan Sehat dan
Bergizi
|
2) Melakukan Analisis SKL, KI, Kompetensi Dasar, Membuat
Indikator,
Dalam
melakukan Analisis Kurikulum (SKL, KI dan KD serta membuat Indikator) dengan cara membaca
semua Standar Kompetensi Lulusan dan Kompetensi Inti, dan Kompetensi Dasar dari semua mata pelajaran.
Setelah
memiliki sejumlah Tema untuk satu tahun, barulah dapat dilanjutkan dengan
menganalisis Standar Kompetensi Lulusan dan Kompetensi Inti serta
Kompetensi Dasar (SKL,
KI dan KD) yang ada dari berbagai
mata pelajaran (Bahasa Indonesia, IPA, IPS, PPKn, Matematika, Seni-Budaya dan Keterampilan, Olah Raga
dan Kesehatan serta Agama yang sifatnya Tata Krama, Budi Pekerti dan Akhlak Mulia). Kemudian masing-masing Kompetensi Dasar dibuatkan
Indikatornya dengan mengikuti kriteria pembuatan Indikator.
3) Melakukan Pemetaan KI, Mata
Pelajaran , Kompetensi Dasar, Indikator dengan Tema
Kompetensi Dasar dari semua mata
pelajaran telah disediakan dalam Kurikulum 2013, demikian juga sejumlah Tema
untuk proses pembelajaran selama satu tahun untuk Kelas 1 sampai dengan Kelas 6
telah disediakan pula. Namun demikian guru masih perlu membuat Indikator dan
melakukan kegitan pemetaan Kompetensi Dasar dan Indikator tersebut dikaitkan
degan Tema yang tersedia dimasukkan ke dalam format pemetaan agar lebih
memudahkan proses penyajian pembelajaran, Indikator mana saja yang dapat
disajikan secara terpadu dengan cara memberikan cek ( √ ).
4) Membuat Jaringan Kompetensi Dasar
Kegiatan berikutnya setelah
dilakukan pemetaan Kompetensi Dasar, Indikator dengan Tema dalam satu Tahun dan
telah terpetakan Indikator mana saja yang akan disajikan dalam setiap Tema,
maka sebaiknya dilanjtkan dengan membuat Jaringan KD dan Indikator dengan cara
menurunkan hasil cek dari pemetaan ke dalam format Jaringan KD & Indikator.
5) Menyusun Silabus Tematik Terpadu
Setelah dibuat Jaringan KD & Indikator, langkah Guru
selanjutnya adalah menyusun Silabus Tematik untuk lebih memudahkan Guru dalam
melihat seluruh desain pembelajaran untuk setiap Tema sampai tuntas tersajikan
di dalam proses pembelajaran. Di Dalam Silabus Tematik ini memberikan gambaran
secara menyeluruh Tema yang telah dipilh akan disajikan berapa minggu dan
kegiatan apa saja yang akan dilakukan dalam penyajian Tema tersebut. Silabus
Tematik Terpadu memuat komponen sebagaimana panduan dari Standar Proses yang
meliputi:
a)
Kompetensi
Dasar mana saja yang sudah terpilih (dari Jaringan KD)
b) Indikator (dibuat oleh Guru, juga
diturunkan dari Jaringan)
c) Kegiatan Pembelajaran yang memuat
perencanaan penyajian untuk berapa minggu Tema tersebut akan di belajarkan,
d) Penilaian proses dan hasil belajar
(diwajibkan memuat penilaian dari aspek sikap, keterampilan dan pegetahuan)
selama proses pembelajaran berlangsung
e) Alokasi
waktu ditulis secara utuh komlatif satu minggu berapa jam pertemuan
(misalnya 30 JP x 35 menit) x 4 minggu)
f) Sumber dan Media.
6) Menyusun Rencana Pelaksanaan
Pembelajaran (RPP) Tematik Terpadu
Langkah
terakhir dari sebuah perencanaan adalah dengan menyusun Rencana Pelaksanaan
Pembelajaran Tematik Terpadu. Di dalam
RPP Tematik Terpadu ini diharapkan dapat tergambar proses penyajian secara utuh
dengan memuat berbagai konsep mata pelajaran yang disatukan dalam Tema. Di
dalam RPP Tematik Terpadu ini peserta didik diajak belajar memahami konsep
kehidupan secara utuh. Penulisan identitas tidak mengemukakan mata pelajaran,
melainkan langsung ditulis Tema apa yang akan dibelajarkan.
Penyusunan
RPP Tematik Terpadu sebagaimana dalam
penyusunan silabus seyogyanya mengacu pada komponen penyusunan RPP dari Standar
Proses yang meliputi: Identitas: Satuan Pendidikan, Tema, Kelas, Semester,
Alokasi Waktu.
a) Kompetensi
Inti: merupakan jabarn dari SKL ada 4
Kompetensi Inti yang harus ditulis semuanya, karena merupakan satu kesatuan
yang utuh dan harus dicapai.
b) Kompetensi
Dasar hasil penyempurnaan Standar Isi
dari Kurikulum 2013 semua mata pelajaran yang telah dipilih dan tertulis di Jaringan KD &
Indikator
c) Indikator
dari semua mata pelajaran yang telah dibuat dan di tuangkan di Pemetaan
d) Tujuan
Pembelajaran yang diharapkan dicapai dari keterpaduan berbagai mata pelajaran
e) Materi
Pembelajaran meliputi berbagai mata
pelajaran
f) Pendekatan
dan Metode pembelajaran
g) Langkah
Pembelajaran memuat kegiatan Pendahuluan, Kegiatan Inti (memuat langkah
pembelajaran Tematik Terpadu memadukan berbaai mata pelajaran yang diatukan
dalam Tema, tersaji secara sistematis dan sistemik dalam tuangan Eksplorasi, Elaborasi dan
Konfirmasi, serta menggambarkan pendekatan Scientific
dan diakhiri dengan Kegiaan Penutup
h) Sumber
dan Media yang memuat semua sumber dan media pembelajaran yang dipergunakan
dalm pembelajaran
i) Penilaian,
meliputi proses dan hasil belajar seyogyanya
dilampirkan instrumen dan rubrik penilaiannya, baik untuk kepentingan proses
dan ketercapaian hasil belajar siswa.
H.
Pendekatan Scientific
Pembelajaran Tematik
Terpadu menggunakan salah satu model pembelajaran terpadu menurut
Robin Fogarty
(1991) Model jaring laba-laba (webbed model). Model ini berangkat
dari pendekatan tematis sebagai acuan dasar bahan dan kegiatan pembelajaran.
Tema yang dibuat dapat mengikat kegiatan pembelajaran, baik dalam mata
pelajaran tertentu maupun antarmata pelajaran.
Sedangkan proses
pembelajaran menggunaan pendekatan. Pendekatan scientific hal ini dimaksudkan untuk memberikan pemahaman kepada
peserta didik dalam mengenal, memahami
berbagai materi menggunakan pendekatan ilmiah, bahwa informasi bisa
berasal dari mana saja, kapan saja, tidak bergantung pada informasi searah dari
guru. Oleh karena itu kondisi pembelajaran yang diharapkan tercipta diarahkan
untuk mendorong peserta didik dalam mencari tahu dari berbagai sumber observasi, bukan diberi tahu.
Kondisi
pembelajaran pada saat ini diharapkan diarahkan agar peserta didik mampu
merumuskan masalah (dengan banyak menanya), bukan hanya menyelesaikan
masalah dengan menjawab saja. Pembelajaran
diharapkan diarahkan untuk melatih berpikir analitis (peserta didik diajarkan
bagaimana mengambil keputusan) bukan berpikir mekanistis (rutin dengan hanya
mendengarkan dan menghapal semata)
Penjelasan Prof. Sudarwan tentang
pendekatan scientific bahwa Pendekatan ini bercirikan penonjolan dimensi, pengamatan, penalaran, penemuan, pengabsahan, dan penjelasan tentang suatu kebenaran. Dengan demikian, proses pembelajaran harus
dilaksanakan dengan dipandu nilai-nilai, prinsip-prinsip, atau kriteria ilmiah.
Proses pembelajaran disebut ilmiah jika memenuhi kriteria seperti berikut ini.
1. Substansi
atau materi pembelajaran berbasis pada fakta atau fenomena yang dapat
dijelaskan dengan logika atau penalaran tertentu; bukan sebatas kira-kira,
khayalan, legenda, atau dongeng semata.
2. Penjelasan
guru, respon peserta didik, dan interaksi edukatif guru-peserta didik terbebas
dari prasangka yang serta-merta, pemikiran subjektif, atau penalaran yang
menyimpang dari alur berpikir logis.
3. Mendorong
dan menginspirasi peserta didik berpikir secara kritis, analistis, dan tepat
dalam mengidentifikasi, memahami, memecahkan masalah, dan mengaplikasikan
substansi atau materi pembelajaran.
4. Mendorong
dan menginspirasi peserta didik mampu berpikir hipotetik dalam melihat
perbedaan, kesamaan, dan tautan satu sama lain dari substansi atau materi
pembelajaran.
5. Mendorong
dan menginspirasi peserta didik mampu memahami, menerapkan, dan mengembangkan
pola berpikir yang rasional dan objektif dalam merespon substansi atau materi
pembelajaran.
6. Berbasis
pada konsep, teori, dan fakta empiris yang dapat dipertanggung jawabkan.
7.
Tujuan
pembelajaran dirumuskan secara sederhana dan jelas, namun menarik sistem
penyajiannya.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar