PEMBELAJARAN MEMBACA
PERMULAAN
DENGAN STRATEGI KOPASUS PERMAINAN KUBUS
DI KELAS I SEKOLAH DASAR
Keluhan tentang rendahnya
kemampuan membaca permulaan di kelas I sekolah dasar bukan merupakan rahasia
lagi. Banyak faktor yang menjadi belum maksimalnya kemampuan siswa. Namun,
dalam hal ini yang menjadi faktor utama adalah kurangnya kreativitas dan kemauan
dari guru untuk mencoba menggunakan strategi dan media pembelajaran yang
bervariasi. Tujuan utama tulisan ini adalah menginformasikan,
mengidentifikasikan, dan menguraikan teori yang berkaitan dengan pembelajaran
membaca permulaan di kelas I sekolah dasar menggunakan strategi kopasus. Dengan
bertambahnya wawasan mengenai teori dan implikasinya serta peningkatan
kreativitas guru dalam menggunakan media yang lebih bervariasi, diharapkan
kemampuan membaca siswa lebih meningkat.
Kemampuan
membaca yang diperoleh pada membaca permulaan akan sangat berpengaruh terhadap
kemampuan membaca lanjut. Sebagai kemampuan yang mendasari kemampuan
berikutnya, maka kemampuan membaca permulaan benar-benar memerlukan perhatian
guru. Jika dasar itu tidak kuat, pada tahap membaca lanjut siswa akan mengalami
kesulitan untuk dapat memiliki kemampuan membaca yang memadai. Oleh sebab itu,
bagaima-napun guru kelas I dan II harus dapat mengajarkan pembelajaran membaca
permulaan dengan cara yang tepat agar ia dapat memberikan dasar kemampuan
membaca yang memadai kepada anak didiknya.
Salah satu
alternatif yang diduga dapat mengatasi masalah pembelajaran membaca permulaan
tersebut adalah menggunakan strategi
kopasus permainan kubus. Dalam permainan ini kartu-kartu yang digunakan
sebagai alat permainan ditempelkan pada sisi-sisi sebuah kotak berbentuk kubus.
Strategi kopasus merupakan singkatan
dari kelompok pasang susun. Penerapan strategi
kopasus kegiatan pembe-lajaran dibagi dalam lima tahap pembelajaran, yaitu
tahap pengelompokan, pemasangan, penyusunan, pembahasan, dan penutup.
Untuk
mengoptimalkan pembelajaran membaca permulaan di SD dilakukan tindak
pembelajaran yang memanfaatkan strategi
kopasus permainan kubus dalam pembelajaran membaca permulaan. Strategi
pembelajaran tersebut dapat diterapkan oleh guru di kelas I SD sebagai salah
satu pembelajaran yang dapat meningkatkan kemampuan membaca permulaan siswa. Penggunaan
strategi kopasus permainan kubus
sebagai media pembelajaran pada pembelajaran membaca permulaan di kelas I SD
diharapkan akan membantu tercapai-nya hasil belajar yang diharapkan.
Pembelajaran Membaca Permulaan
Membaca
permulaan adalah tahapan proses belajar membaca yang diperuntukkan bagi siswa
SD kelas awal. Membaca permulaan berlangsung selama dua tahun, yaitu untuk SD
kelas I dan II. Bagi mereka, membaca adalah kegiatan belajar mengenal bahasa
tulis. Melalui tulisan itulah siswa dituntut dapat menyuarakan lambang-lambang
bunyi bahasa tersebut.
Membaca
permulaan di kelas I SD dimaksudkan untuk melatih siswa menguasai teknik
membaca, melatih keterampilan melagukan atau mengucapkan tulisan dengan baik.
Keberhasilan siswa membaca permulaan memungkinkan siswa memiliki (1)
pengetahuan dasar yang dapat digunakan sebagai dasar untuk mendengarkan bahasa
Indonesia, (2) pengetahuan dasar yang dapat digunakan sebagai dasar untuk
berbicara bahasa Indonesia, (3) pengetahuan dasar yang digunakan sebagai dasar
untuk membaca bahasa Indonesia, dan (4) pengetahuan dasar yang dapat digunakan
sebagai dasar untuk menulis dalam bahasa Indonesia.
Pelaksanaan
membaca permulaan di kelas I SD dilakukan dalam dua periode, yaitu periode
membaca tanpa buku dan membaca menggunakan buku. Membaca tanpa buku dilakukan
dengan cara mengajar menggunakan media atau alat peraga selain buku, sedangkan
membaca dengan buku merupakan kegiatan membaca dengan menggunakan buku sebagai
bahan dan media pembelajaran.
Membaca
permulaan tanpa buku diberikan dengan pertimbangan agar siswa yang baru masuk
sekolah tidak langsung dibebani dengan masalah-masalah yang memberatkan siswa.
Biasanya dalam membaca permulaan tanpa buku ini siswa hanya dilibatkan dengan
kegiatan-kegiatan seperti menyimak cerita guru, bertanya jawab dengan guru,
memperhatikan gambar yang diperlihatkan guru, membicarakan gambar, menemukan
tanda bunyi, membaca kata, membaca kalimat, dan lain-lain. Waktu yang
diperlukan untuk pengajaran membaca permulaan tanpa buku maksimal 8 sampai 10
minggu. Sisa dari semester pertama digunakan untuk membaca dengan buku.
Membaca
permulaan dengan buku dimulai dengan membaca tulisan yang bahannya diambil dari
bahan yang telah dipelajari pada waktu mereka mempelajari huruf-huruf pada tahap
membaca tanpa buku. Buku-buku yang digunakan adalah buku paket dan buku
pelengkap yang sudah disesuaikan dengan kurikulum yang berlaku. Biasanya
pembelajaran yang dilakukan oleh guru adalah membaca bacaan dengan nyaring
bersama siswa, guru menyuruh siswa membaca setiap baris secara bergantian.
Dengan cara ini guru dapat mengetahui kemampuan membaca siswa.
Berkaitan
dengan pembe-lajaran membaca permulaan di kelas I SD pada minggu-minggu pertama
bahan pembelajaran itu disusun guru berdasarkan kalimat siswa, kemudian secara
bertahap baru menggunakan buku paket yang telah disediakan. Bahan pembelajaran
yang disampaikan meliputi (1) tahap persiapan, yang disampaikan (a) sikap duduk
yang baik, (b) cara meletakkan/ menempatkan buku di meja, (c) cara memagang buku,
(d) cara membalik halaman buku yang tepat, (e) melihat/memperhatikan gambar
atau tulisan, dan (2) tahap membaca, yang diajarkan (a) lafal dan intonasi kata
dan kalimat sederhana dengan cara menirukan guru, (b) huruf-huruf yang banyak
digunakan dalam kata dan kalimat sederhana yang sudah dikenal siswa,
huruf-huruf dikenalkan secara bertahap sampai dengan 14 huruf, yaitu huruf a,
i, m, u, l, b, e, t, p, o, d, k, dan s, (c) kata-kata baru yang bermakna, (d)
lafal dan intonasi kata yang sudah dikenal dan kata baru, pengenalan huruf h,
r, j, g, dan y, (e) puisi yang sesuai dengan tingkat kemampuan siswa, (f)
bacaan lebih kurang sepuluh kalimat, dan (g) kalimat-kalimat sederhana.
Melihat
pentingnya peran media pembelajaran tersebut, sebaiknya guru menyediakan media
pada saat melaksanakan kegiatan pembelajaran. Dihubungkan dengan pembelajaran
membaca permulaan di kelas I SD, media yang digunakan adalah kartu huruf, kartu
suku kata, kartu kata, kartu kalimat, kartu gambar, buku teks, papan flannel,
guru, dan lain-lain. Keefektifan berbagai media pembelajaran tersebut sangat
tergantung pada kreativitas guru dalam mempergunakannya.
Ada
beberapa faktor yang mempengaruhi kemampuan membaca permulaan. Faktor-faktor
tersebut dijabarkan sebagai berikut.
1) Faktor
Motivasi
Motivasi
membaca adalah suatu dorongan atau rangsangan yang dapat membuat pembaca sadar,
mau, dan mampu melakukan kegiatan membaca guna memperoleh pesan yang hendak
disampaikan penulis melalui lambang tulisan yang dibacanya.
2) Faktor
Guru
Guru diharapkan berperan
sebagai pembaca terbaik, memiliki pengetahuan membaca yang baik, membagikan
pengalaman membacanya dengan siswa, dan mempersiapkan atau membekali dirinya
dengan bahan yang seoptimal mungkin. Guru diharapkan mampu memilih dan menentukan bahan, media,
metode, dan srtategi pembelajaran yang akan digunakan.
3) Faktor
Lingkungan Keluarga
Lingkungan
keluarga meme-gang peran yang penting dalam meningkatkan kemampuan dan kemauan
membaca siswa. Orang tua yang memiliki kesadaran akan pentingnya kemampuan
membaca akan berusaha agar anaknya memiliki kesempatan untuk belajar membaca.
Kebiasaan orang tua membacakan cerita untuk anak-anak yang masih kecil
merupakan usaha yang besar sekali artinya dalam menumbuhkan minat baca maupun
perluasan pengalaman serta pengetahuan anak.
4) Faktor
Bahan Bacaan
Bahan
bacaan akan mempengaruhi seseorang dalam hal minat maupun kemampuan memahami
suatu bacaan. Bahan bacaan yang sulit akan mematahkan selera anak untuk
membacanya.
Strategi Kopasus
Strategi kopasus merupakan singkatan dari kelompok-pasang-susun.
Tahap-tahap pembelajaran membaca permulaan dengan strategi kopasus dijabarkan sebagai berikut.
1) Tahap pertama disebut
dengan tahap pengelompokan. Tahap ini merupakan tahap persiapan
sebelum pembelajaran dimulai. Tahap ini disebut juga dengan tahap pemfokusan.
Tahap ini dibedakan menjadi dua aspek, yaitu (1) kegiatan prapermainan, dan (2)
jenis kegiatan permainan yang sesuai dengan tujuan pembelajaran, siswa,
situasi, dan lingkungan. Tujuan tahap pengelompokan adalah untuk menarik
perhatian siswa, memotivasi siswa, mengaitkan materi permainan dengan
pengalaman siswa, dan menggambarkan garis besar permainan.
2) Tahap kedua disebut
dengan tahap pemasangan.
Tahap ini merupakan tahap pelaksanaan aktivitas awal. Pada tahap ini siswa diarahkan
untuk dapat berperan aktif mulai dari awal permainan. Kegiatan pada tahap ini
dilakukan dengan cara individual dan kelompok. Penerapan tahap ini dalam
permainan dimulai dengan kegiatan memilih dan mengambil kubus-kubus yang akan
digunakan dalam permainan. Ketepatan dan kecepatan siswa dalam beraktivitas
merupakan salah satu dari proses penilaian. Tahap ini dibedakan menjadi dua
aspek, yaitu (1) kegiatan permainan yang berpusat pada aktivitas siswa, dan (2)
kegiatan permainan yang disusun dengan urutan yang logis.
3) Tahap disebut dengan tahap
penyusunan. Tahap ini merupakan kelanjutan tahap pelaksanaan aktivitas.
Kubus-kubus yang telah dipilih/diambil kemudian disusun sesuai dengan petunjuk
atau perintah dalam permainan. Ketepatan, kecepatan, dan kerapian merupakan hal
yang dinilai dalam proses penilaian. Tahap ini dibedakan menjadi tiga aspek,
yaitu (1) kegiatan permainan secara invidual, kelompok, atau klasikal, (2)
mengelola waktu permainan secara efisien, dan (3) penggunaan bahasa lisan,
tulisan, dan isyarat.
4) Tahap keempat disebut
dengan tahap pembahasan. Tahap ini bertujuan untuk membantu siswa
mengingat kembali pengalaman atau pengetahuan yang sudah diperolehnya dan
mendorong siswa agar mau berperan serta dalam kegiatan permainan. Tahap ini
dbedakan menjadi dua aspek, yaitu (1) memicu dan memelihara keterlibatan siswa,
dan (2) membantu menumbuhkan kepercayaan pada diri siswa.
5) Tahap kelima disebut
dengan tahap penutup. Tahap
ini bertujuan untuk memberikan pujian kepada siswa (rayakan), memberikan
kesempatan kepada siswa untuk mengungkapkan kesan pembelajaran, dan memancing
inisiatif siswa untuk merapikan kembali kubus-kubus yang telah digunakan.
Penggunaan strategi kopasus permainan kubus
melibatkan siswa untuk aktif dan kreatif dalam pembelajaran. Suasana
pembelajaran yang menyenangkan ikut membantu tercapainya tujuan pembelajaran
yang diharapkan. Hal ini sejalan dengan pembelajaran aktif kreatif efektif
menyenangkan atau yang lebih dikenal dengan istilah PAKEM.
Permainan Kubus
Pada hakikatnya permainan
merupakan aktivitas untuk memperoleh keterampilan tertentu dengan cara
mengembirakan di samping memperoleh kesenangan. Dengan kata lain, permainan
meliputi rentang perilaku yang berkaitan dengan banyak aktivitas yang berbeda,
baik yang dilakukan anak-anak maupun orang dewasa.
Menurut Sadiman, dkk.
(1986:80-82), sebagai media pembelajaran, permainan mempunyai beberapa
kelebihan. Kelebihan-kelebihan tersebut
dijabarkan sebagai berikut.
1) Permainan merupakan
sesuatu yang menyenangkan.
2) Permainan
memungkinkan adanya partisipasi aktif dari siswa untuk belajar. Permainan
mempunyai kemampuan untuk melibatkan siswa dalam proses belajar secara aktif.
3) Permainan dapat
memberikan umpan balik langsung.
4) Keterampilan yang
dipelajari melalui permainan jauh lebih mudah untuk diterapkan.
5) Permainan bersifat
luwes.
6) Permainan dapat
dengan mudah dibuat dan diperbanyak. Untuk membuat permainan yang baik, tidak
diperlukan seorang yang ahli.
Pemilihan
bentuk permainan disesuaikan dengan tujuan pembelajaran yang telah
direncanakan. Adapun jenis permainan kubus yang dapat dimplementasikan dalam
pembelajaran membaca permulaan di kelas I SD adalah (1) permainan membaca kubus
gambar, (2) permainan ALAI (Aku Lihat Aku Ingat), (3) permainan mencocokkan
kubus gambar dengan kubus kata, (4) permainan
menyusun kubus suku kata menjadi kata sesuai dengan gambar, (5)
permainan menyusun kata acak menjadi kalimat, dan (6) permainan
badak/baca-tindak.
Ada lima
pola umum dalam mengimplementasikan strategi
kopasus permainan kubus dalam pembelajaran membaca permulaan, yaitu (1) pengelompokan,
(2) pemasangan, (3) penyusunan, (4) pembahasan, dan (5) penutup.
Pengelompokan merupakan tahap persiapan sebelum pembelajaran
dimulai, yang digunakan untuk menarik perhatian siswa. Pengelompokan
dilaksanakan dengan cara menyuruh siswa mengelompokan alat permainan berupa
media kubus. Dalam tahap pengelompokan guru menjelaskan aktivitas atau aturan
main yang harus dipatuhi. Pemasangan dan penyusunan merupakan
tahap pelaksanaan aktivitas permainan. Pelaksanaan aktivitas ini berupa
aktivitas bermain dan aktivitas pembelajaran yang harus dilaksanakan siswa,
yang sudah dirancang guru sesuai dengan tujuan pembelajaran. Pembahasan
aktivitas berupa penguatan guru
dikaitkan dengan materi yang telah diberikan sewaktu siswa melaksanakan
aktivitas permainan. Penutup dimaksudkan untuk melihat
respon siswa berkaitan dengan aktivitas pembelajaran yang telah dilaksanakan.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar