Selasa, 31 Desember 2013

Membaca dengan Metode Kopasus?


PEMBELAJARAN MEMBACA PERMULAAN
DENGAN STRATEGI KOPASUS PERMAINAN KUBUS
DI KELAS I SEKOLAH DASAR

Keluhan tentang rendahnya kemampuan membaca permulaan di kelas I sekolah dasar bukan merupakan rahasia lagi. Banyak faktor yang menjadi belum maksimalnya kemampuan siswa. Namun, dalam hal ini yang menjadi faktor utama adalah kurangnya kreativitas dan kemauan dari guru untuk mencoba menggunakan strategi dan media pembelajaran yang bervariasi. Tujuan utama tulisan ini adalah menginformasikan, mengidentifikasikan, dan menguraikan teori yang berkaitan dengan pembelajaran membaca permulaan di kelas I sekolah dasar menggunakan strategi kopasus. Dengan bertambahnya wawasan mengenai teori dan implikasinya serta peningkatan kreativitas guru dalam menggunakan media yang lebih bervariasi, diharapkan kemampuan membaca siswa lebih meningkat.
Kemampuan membaca yang diperoleh pada membaca permulaan akan sangat berpengaruh terhadap kemampuan membaca lanjut. Sebagai kemampuan yang mendasari kemampuan berikutnya, maka kemampuan membaca permulaan benar-benar memerlukan perhatian guru. Jika dasar itu tidak kuat, pada tahap membaca lanjut siswa akan mengalami kesulitan untuk dapat memiliki kemampuan membaca yang memadai. Oleh sebab itu, bagaima-napun guru kelas I dan II harus dapat mengajarkan pembelajaran membaca permulaan dengan cara yang tepat agar ia dapat memberikan dasar kemampuan membaca yang memadai kepada anak didiknya.
Salah satu alternatif yang diduga dapat mengatasi masalah pembelajaran membaca permulaan tersebut adalah menggunakan strategi kopasus permainan kubus. Dalam permainan ini kartu-kartu yang digunakan sebagai alat permainan ditempelkan pada sisi-sisi sebuah kotak berbentuk kubus. Strategi kopasus merupakan singkatan dari kelompok pasang susun. Penerapan strategi kopasus kegiatan pembe-lajaran dibagi dalam lima tahap pembelajaran, yaitu tahap pengelompokan, pemasangan, penyusunan, pembahasan, dan penutup.
Untuk mengoptimalkan pembelajaran membaca permulaan di SD dilakukan tindak pembelajaran yang memanfaatkan strategi kopasus permainan kubus dalam pembelajaran membaca permulaan. Strategi pembelajaran tersebut dapat diterapkan oleh guru di kelas I SD sebagai salah satu pembelajaran yang dapat meningkatkan kemampuan membaca permulaan siswa. Penggunaan strategi kopasus permainan kubus sebagai media pembelajaran pada pembelajaran membaca permulaan di kelas I SD diharapkan akan membantu tercapai-nya hasil belajar yang diharapkan.
Pembelajaran Membaca Permulaan
Membaca permulaan adalah tahapan proses belajar membaca yang diperuntukkan bagi siswa SD kelas awal. Membaca permulaan berlangsung selama dua tahun, yaitu untuk SD kelas I dan II. Bagi mereka, membaca adalah kegiatan belajar mengenal bahasa tulis. Melalui tulisan itulah siswa dituntut dapat menyuarakan lambang-lambang bunyi bahasa tersebut.
Membaca permulaan di kelas I SD dimaksudkan untuk melatih siswa menguasai teknik membaca, melatih keterampilan melagukan atau mengucapkan tulisan dengan baik. Keberhasilan siswa membaca permulaan memungkinkan siswa memiliki (1) pengetahuan dasar yang dapat digunakan sebagai dasar untuk mendengarkan bahasa Indonesia, (2) pengetahuan dasar yang dapat digunakan sebagai dasar untuk berbicara bahasa Indonesia, (3) pengetahuan dasar yang digunakan sebagai dasar untuk membaca bahasa Indonesia, dan (4) pengetahuan dasar yang dapat digunakan sebagai dasar untuk menulis dalam bahasa Indonesia.
Pelaksanaan membaca permulaan di kelas I SD dilakukan dalam dua periode, yaitu periode membaca tanpa buku dan membaca menggunakan buku. Membaca tanpa buku dilakukan dengan cara mengajar menggunakan media atau alat peraga selain buku, sedangkan membaca dengan buku merupakan kegiatan membaca dengan menggunakan buku sebagai bahan dan media pembelajaran.
Membaca permulaan tanpa buku diberikan dengan pertimbangan agar siswa yang baru masuk sekolah tidak langsung dibebani dengan masalah-masalah yang memberatkan siswa. Biasanya dalam membaca permulaan tanpa buku ini siswa hanya dilibatkan dengan kegiatan-kegiatan seperti menyimak cerita guru, bertanya jawab dengan guru, memperhatikan gambar yang diperlihatkan guru, membicarakan gambar, menemukan tanda bunyi, membaca kata, membaca kalimat, dan lain-lain. Waktu yang diperlukan untuk pengajaran membaca permulaan tanpa buku maksimal 8 sampai 10 minggu. Sisa dari semester pertama digunakan untuk membaca dengan buku.
Membaca permulaan dengan buku dimulai dengan membaca tulisan yang bahannya diambil dari bahan yang telah dipelajari pada waktu mereka mempelajari huruf-huruf pada tahap membaca tanpa buku. Buku-buku yang digunakan adalah buku paket dan buku pelengkap yang sudah disesuaikan dengan kurikulum yang berlaku. Biasanya pembelajaran yang dilakukan oleh guru adalah membaca bacaan dengan nyaring bersama siswa, guru menyuruh siswa membaca setiap baris secara bergantian. Dengan cara ini guru dapat mengetahui kemampuan membaca siswa.
Berkaitan dengan pembe-lajaran membaca permulaan di kelas I SD pada minggu-minggu pertama bahan pembelajaran itu disusun guru berdasarkan kalimat siswa, kemudian secara bertahap baru menggunakan buku paket yang telah disediakan. Bahan pembelajaran yang disampaikan meliputi (1) tahap persiapan, yang disampaikan (a) sikap duduk yang baik, (b) cara meletakkan/ menempatkan buku di meja, (c) cara memagang buku, (d) cara membalik halaman buku yang tepat, (e) melihat/memperhatikan gambar atau tulisan, dan (2) tahap membaca, yang diajarkan (a) lafal dan intonasi kata dan kalimat sederhana dengan cara menirukan guru, (b) huruf-huruf yang banyak digunakan dalam kata dan kalimat sederhana yang sudah dikenal siswa, huruf-huruf dikenalkan secara bertahap sampai dengan 14 huruf, yaitu huruf a, i, m, u, l, b, e, t, p, o, d, k, dan s, (c) kata-kata baru yang bermakna, (d) lafal dan intonasi kata yang sudah dikenal dan kata baru, pengenalan huruf h, r, j, g, dan y, (e) puisi yang sesuai dengan tingkat kemampuan siswa, (f) bacaan lebih kurang sepuluh kalimat, dan (g) kalimat-kalimat sederhana.
Melihat pentingnya peran media pembelajaran tersebut, sebaiknya guru menyediakan media pada saat melaksanakan kegiatan pembelajaran. Dihubungkan dengan pembelajaran membaca permulaan di kelas I SD, media yang digunakan adalah kartu huruf, kartu suku kata, kartu kata, kartu kalimat, kartu gambar, buku teks, papan flannel, guru, dan lain-lain. Keefektifan berbagai media pembelajaran tersebut sangat tergantung pada kreativitas guru dalam mempergunakannya.
Ada beberapa faktor yang mempengaruhi kemampuan membaca permulaan. Faktor-faktor tersebut dijabarkan sebagai berikut.
1) Faktor Motivasi
Motivasi membaca adalah suatu dorongan atau rangsangan yang dapat membuat pembaca sadar, mau, dan mampu melakukan kegiatan membaca guna memperoleh pesan yang hendak disampaikan penulis melalui lambang tulisan yang dibacanya.
2) Faktor Guru
Guru diharapkan berperan sebagai pembaca terbaik, memiliki pengetahuan membaca yang baik, membagikan pengalaman membacanya dengan siswa, dan mempersiapkan atau membekali dirinya dengan bahan yang seoptimal mungkin. Guru diharapkan  mampu memilih dan menentukan bahan, media, metode, dan srtategi pembelajaran yang akan digunakan.
3) Faktor Lingkungan Keluarga
Lingkungan keluarga meme-gang peran yang penting dalam meningkatkan kemampuan dan kemauan membaca siswa. Orang tua yang memiliki kesadaran akan pentingnya kemampuan membaca akan berusaha agar anaknya memiliki kesempatan untuk belajar membaca. Kebiasaan orang tua membacakan cerita untuk anak-anak yang masih kecil merupakan usaha yang besar sekali artinya dalam menumbuhkan minat baca maupun perluasan pengalaman serta pengetahuan anak.
4) Faktor Bahan Bacaan
Bahan bacaan akan mempengaruhi seseorang dalam hal minat maupun kemampuan memahami suatu bacaan. Bahan bacaan yang sulit akan mematahkan selera anak untuk membacanya.
Strategi Kopasus
Strategi kopasus merupakan singkatan dari kelompok-pasang-susun. Tahap-tahap pembelajaran membaca permulaan dengan strategi kopasus dijabarkan sebagai berikut.
1)      Tahap pertama disebut dengan tahap pengelompokan. Tahap ini merupakan tahap persiapan sebelum pembelajaran dimulai. Tahap ini disebut juga dengan tahap pemfokusan. Tahap ini dibedakan menjadi dua aspek, yaitu (1) kegiatan prapermainan, dan (2) jenis kegiatan permainan yang sesuai dengan tujuan pembelajaran, siswa, situasi, dan lingkungan. Tujuan tahap pengelompokan adalah untuk menarik perhatian siswa, memotivasi siswa, mengaitkan materi permainan dengan pengalaman siswa, dan menggambarkan garis besar permainan.
2)      Tahap kedua disebut dengan tahap pemasangan. Tahap ini merupakan tahap pelaksanaan aktivitas awal. Pada tahap ini siswa diarahkan untuk dapat berperan aktif mulai dari awal permainan. Kegiatan pada tahap ini dilakukan dengan cara individual dan kelompok. Penerapan tahap ini dalam permainan dimulai dengan kegiatan memilih dan mengambil kubus-kubus yang akan digunakan dalam permainan. Ketepatan dan kecepatan siswa dalam beraktivitas merupakan salah satu dari proses penilaian. Tahap ini dibedakan menjadi dua aspek, yaitu (1) kegiatan permainan yang berpusat pada aktivitas siswa, dan (2) kegiatan permainan yang disusun dengan urutan yang logis.
3)      Tahap disebut dengan tahap penyusunan. Tahap ini merupakan kelanjutan tahap pelaksanaan aktivitas. Kubus-kubus yang telah dipilih/diambil kemudian disusun sesuai dengan petunjuk atau perintah dalam permainan. Ketepatan, kecepatan, dan kerapian merupakan hal yang dinilai dalam proses penilaian. Tahap ini dibedakan menjadi tiga aspek, yaitu (1) kegiatan permainan secara invidual, kelompok, atau klasikal, (2) mengelola waktu permainan secara efisien, dan (3) penggunaan bahasa lisan, tulisan, dan isyarat.
4)      Tahap keempat disebut dengan tahap pembahasan. Tahap ini bertujuan untuk membantu siswa mengingat kembali pengalaman atau pengetahuan yang sudah diperolehnya dan mendorong siswa agar mau berperan serta dalam kegiatan permainan. Tahap ini dbedakan menjadi dua aspek, yaitu (1) memicu dan memelihara keterlibatan siswa, dan (2) membantu menumbuhkan kepercayaan pada diri siswa.
5)      Tahap kelima disebut dengan tahap penutup. Tahap ini bertujuan untuk memberikan pujian kepada siswa (rayakan), memberikan kesempatan kepada siswa untuk mengungkapkan kesan pembelajaran, dan memancing inisiatif siswa untuk merapikan kembali kubus-kubus yang telah digunakan.
Penggunaan strategi kopasus permainan kubus melibatkan siswa untuk aktif dan kreatif dalam pembelajaran. Suasana pembelajaran yang menyenangkan ikut membantu tercapainya tujuan pembelajaran yang diharapkan. Hal ini sejalan dengan pembelajaran aktif kreatif efektif menyenangkan atau yang lebih dikenal dengan istilah PAKEM.
Permainan Kubus
Pada hakikatnya permainan merupakan aktivitas untuk memperoleh keterampilan tertentu dengan cara mengembirakan di samping memperoleh kesenangan. Dengan kata lain, permainan meliputi rentang perilaku yang berkaitan dengan banyak aktivitas yang berbeda, baik yang dilakukan anak-anak maupun orang dewasa.
Menurut Sadiman, dkk. (1986:80-82), sebagai media pembelajaran, permainan mempunyai beberapa kelebihan. Kelebihan-kelebihan tersebut  dijabarkan sebagai berikut.
1)      Permainan merupakan sesuatu yang menyenangkan.
2)      Permainan memungkinkan adanya partisipasi aktif dari siswa untuk belajar. Permainan mempunyai kemampuan untuk melibatkan siswa dalam proses belajar secara aktif.
3)      Permainan dapat memberikan umpan balik langsung.
4)      Keterampilan yang dipelajari melalui permainan jauh lebih mudah untuk diterapkan.
5)      Permainan bersifat luwes.
6)      Permainan dapat dengan mudah dibuat dan diperbanyak. Untuk membuat permainan yang baik, tidak diperlukan seorang yang ahli.  
Pemilihan bentuk permainan disesuaikan dengan tujuan pembelajaran yang telah direncanakan. Adapun jenis permainan kubus yang dapat dimplementasikan dalam pembelajaran membaca permulaan di kelas I SD adalah (1) permainan membaca kubus gambar, (2) permainan ALAI (Aku Lihat Aku Ingat), (3) permainan mencocokkan kubus gambar dengan kubus kata, (4) permainan  menyusun kubus suku kata menjadi kata sesuai dengan gambar, (5) permainan menyusun kata acak menjadi kalimat, dan (6) permainan badak/baca-tindak.
Ada lima pola umum dalam mengimplementasikan strategi kopasus permainan kubus dalam pembelajaran membaca permulaan, yaitu (1) pengelompokan, (2) pemasangan, (3) penyusunan, (4) pembahasan, dan (5) penutup.
Pengelompokan merupakan tahap persiapan sebelum pembelajaran dimulai, yang digunakan untuk menarik perhatian siswa. Pengelompokan dilaksanakan dengan cara menyuruh siswa mengelompokan alat permainan berupa media kubus. Dalam tahap pengelompokan guru menjelaskan aktivitas atau aturan main yang harus dipatuhi. Pemasangan dan penyusunan merupakan tahap pelaksanaan aktivitas permainan. Pelaksanaan aktivitas ini berupa aktivitas bermain dan aktivitas pembelajaran yang harus dilaksanakan siswa, yang sudah dirancang guru sesuai dengan tujuan pembelajaran. Pembahasan aktivitas  berupa penguatan guru dikaitkan dengan materi yang telah diberikan sewaktu siswa melaksanakan aktivitas permainan. Penutup dimaksudkan untuk melihat respon siswa berkaitan dengan aktivitas pembelajaran yang telah dilaksanakan.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar