Bertanya sebagai Keterampilan Abad 21
A. Pendahuluan
Bertanya merupakan cara yang
efektif untuk memperluas pemikiran, untuk tumbuh dan berkembangnya pemikiran.
Bertanya membuat apa yang di sekeliling kita masuk akal. Bertanya juga
mengarahkan kita pada kecakapan untuk membuat pemecahan, keputusan, dan rencana
dengan baik.
Guru yang efektif mampu menginspirasi peserta didik
untuk meningkatkan dan mengembangkan ranah sikap, keterampilan, dan
pengetahuannya. Pada saat guru bertanya, pada saat itu pula dia membimbing atau
memandu peserta didiknya belajar dengan baik. Ketika guru menjawab pertanyaan
peserta didiknya, ketika itu pula dia mendorong asuhannya itu untuk menjadi
penyimak dan pembelajar yang baik.
Berbeda dengan penugasan yang menginginkan tindakan
nyata, pertanyaan dimaksudkan untuk memperoleh tanggapan
verbal. Istilah “pertanyaan” tidak selalu dalam bentuk “kalimat tanya”,
melainkan juga dapat dalam bentuk pernyataan, asalkan keduanya menginginkan
tanggapan verbal. Bentuk pertanyaan, misalnya: Apakah ciri-ciri kalimat yang
efektif? Bentuk pernyataan, misalnya: Sebutkan ciri-ciri kalimay efektif!
B. Fungsi bertanya dalam pembelajaran antara lain adalah
1.
Membangkitkan rasa ingin
tahu, minat, dan perhatian peserta didik
tentang suatu tema atau topik pembelajaran.
2.
Mendorong dan
menginspirasi peserta didik untuk aktif belajar, serta mengembangkan pertanyaan
dari dan untuk dirinya sendiri.
3.
Mendiagnosis kesulitan
belajar peserta didik sekaligus menyampaikan ancangan untuk mencari solusinya.
4.
Menstrukturkan tugas-tugas
dan memberikan kesempatan kepada peserta didik untuk menunjukkan sikap,
keterampilan, dan pemahamannya atas substansi pembelajaran yang diberikan.
5.
Membangkitkan keterampilan
peserta didik dalam berbicara, mengajukan pertanyaan, dan memberi jawaban
secara logis, sistematis, dan menggunakan bahasa yang baik dan benar.
6.
Mendorong partisipasi
peserta didik dalam berdiskusi, berargumen, mengembangkan kemampuan
berpikir, dan menarik simpulan.
7.
Membangun sikap keterbukaan
untuk saling memberi dan menerima pendapat atau gagasan, memperkaya kosa kata,
serta mengembangkan toleransi sosial dalam hidup berkelompok.
8.
Membiasakan peserta didik
berpikir spontan dan cepat, serta sigap dalam merespon persoalan yang tiba-tiba
muncul.
9.
Melatih kesantunan dalam
berbicara dan membangkitkan kemampuan berempati satu sama lain.
C. Strategi Bertanya
1. Gunakan bahasa yang bisa dimengerti orang lain
2. Ajukan pertanyaan yang memiliki lebih dari satu
jawaban yang benar
3. Mendorong berbagai jawaban dengan rekan atau
kelompok kecil sebelum kelompok yang lebih besar
4. Memanggil siswa secara acak dan menginjinkan
siswa untuk meminta siswa lain untuk memberi tanggapan
5. Mendengarkan secara aktif apa yang dikatakan
siswa
6. Menghindari godaan untuk memotong atau
memperbaiki kesalahan dengan segera
7. Menahan diri dalam memberikan penilaian dan
menanggapi dengan cara yang tidak menghakimi
8. Mengarahkan kembali jawaban yang salah
9. Menyuruh satu siswa untuk merangkum gagasan
siswa lain
10. Meminta kelanjutan, seperti mengapa? Bisa cerita
lebih jauh lagi? Mungkin ada contoh yang lain?
11. Mengundang siswa untuk membuka “pemikiran
mereka” dan mendiskusikan bagaimana mereka sampai pada jawaban tersebut
12. Membiarkan siswa mengembangkan pertanyaan untuk
saling bertanya.
D. Kriteria pertanyaan yang baik
1. Singkat dan jelas.
Contoh: (1) Seberapa jauh pemahaman
Anda mengenai faktor-faktor yang menyebabkan generasi muda terjerat kasus
narkotika dan obat-obatan terlarang? (2) Faktor-faktor apakah yang menyebabkan
generasi muda terjerat kasus narkotika dan obat-obatan terlarang? Pertanyaan
kedua lebih singkat dan lebih jelas dibandingkan dengan pertanyaan pertama.
2. Menginspirasi jawaban.
Contoh: Membangun semangat kerukunan umat beragama itu sangat penting pada
bangsa yang multiagama. Jika suatu bangsa gagal membangun semangat kerukukan
beragama, akan muncul aneka persoalan sosial kemasyarakatan. Coba jelaskan
dampak sosial apa saja yang muncul, jika suatu bangsa gagal membangun kerukunan
umat beragama? Dua kalimat yang mengawali pertanyaan di muka merupakan contoh
yang diberikan guru untuk menginspirasi jawaban peserta menjawab pertanyaan.
3. Memiliki fokus.
Contoh: Faktor-faktor apakah yang menyebabkan terjadinya kemiskinan? Untuk
pertanyaan seperti ini sebaiknya masing-masing peserta didik diminta
memunculkan satu jawaban. Peserta didik pertama hingga kelima misalnya
menjawab: kebodohan, kemalasan, tidak memiliki modal usaha, kelangkaan sumber
daya alam, dan keterisolasian geografis. Jika masih tersedia alternatif jawaban
lain, peserta didik yang keenam dan seterusnya, bisa dimintai jawaban.
Pertanyaan yang luas seperti di atas
dapat dipersempit, misalnya: Mengapa kemalasan menjadi penyebab kemiskinan?
Pertanyaan seperti ini dimintakan jawabannya kepada peserta didik secara
perorangan.
4. Bersifat probing atau divergen.
Contoh: (1) Untuk meningkatkan kualitas hasil belajar, apakah peserta didik
harus rajin belajar? (2) Mengapa peserta didik yang sangat malas belajar
cenderung menjadi putus sekolah? Pertanyaan pertama cukup dijawab oleh peserta didik dengan Ya atau Tidak.
Sebaliknya, pertanyaan kedua menuntut jawaban yang bervariasi urutan jawaban
dan penjelasannya, yang kemungkinan memiliki bobot kebenaran yang sama.
5. Bersifat validatif atau penguatan.
Pertanyaan dapat diajukan dengan cara meminta kepada peserta didik yang berbeda untuk menjawab pertanyaan yang
sama. Jawaban atas pertanyaan itu
dimaksudkan untuk memvalidsi atau melakukan penguatan atas jawaban peserta
didik sebelumnya. Ketika beberapa orang peserta didik telah memberikan jawaban
yang sama, sebaiknya guru menghentikan pertanyaan itu atau meminta mereka
memunculkan jawaban yang lain yang berbeda, namun sifatnya menguatkan.
Contoh:
Guru: “mengapa kemalasan menjadi penyebab kemiskinan”?
Peserta didik I: “karena orang yang malas lebih banyak diam ketimbang
bekerja.”
Guru: “siapa yang dapat melengkapi jawaban tersebut?”
Peserta didik II: “karena lebih banyak diam ketimbang bekerja, orang yang
malas tidak produktif”
Guru : “siapa yang dapat melengkapi
jawaban tersebut?”
Peserta didik III: “orang malas tidak bertindak aktif, sehingga kehilangan
waktu terlalu banyak untuk bekerja, karena itu dia tidak produktif.”
6. Memberi
kesempatan peserta didik untuk berpikir ulang.
Untuk menjawab pertanyaan dari guru, peserta didik memerlukan waktu yang
cukup untuk memikirkan jawabannya dan memverbalkannya dengan kata-kata. Karena
itu, setelah mengajukan pertanyaan, guru hendaknya menunggu beberapa saat
sebelum meminta atau menunjuk peserta didik untuk menjawab pertanyaan itu.
Jika dengan pertanyaan tertentu tidak ada peserta didik yang bisa menjawah
dengan baik, sangat dianjurkan guru mengubah pertanyaannya. Misalnya: (1) Apa
faktor picu utama Belanda menjajah Indonesia?; (2) Apa motif utama Belanda
menjajah Indonesia? Jika dengan pertanyaan pertama guru belum memperoleh
jawaban yang memuaskan, ada baiknya dia mengubah pertanyaan seperti pertanyaan
kedua.
7.
Merangsang peningkatan tuntutan kemampuan kognitif.
Merangsang peningkatan tuntutan kemampuan kognitif.
Pertanyaan guru yang baik membuka peluang peserta didik untuk mengembangkan
kemampuan berpikir yang makin meningkat, sesuai dengan tuntunan tingkat
kognitifnya. Guru mengemas atau mengubah pertanyaan yang menuntut jawaban
dengan tingkat kognitif rendah ke makin tinggi, seperti dari sekadar mengingat
fakta ke pertanyaan yang menggugah kemampuan kognitif yang lebih tinggi, seperti pemahaman,
penerapan, analisis, sintesis, dan evaluasi. Kata-kata kunci pertanyaan ini,
seperti: apa, mengapa, bagaimana, dan seterusnya.
8. Merangsang
proses interaksi.
Pertanyaan guru yang baik mendorong munculnya interaksi dan suasana
menyenangkan pada diri peserta didik. Dalam kaitan ini, setelah menyampaikan
pertanyaan, guru memberikan kesempatan kepada peserta didik mendiskusikan
jawabannya. Setelah itu, guru memberi kesempatan kepada seorang atau beberapa
orang peserta didik diminta menyampaikan jawaban atas pertanyaan tersebut. Pola
bertanya seperti ini memposisikan guru sebagai wahana pemantul.
E.
Tingkatan Pertanyaan
Pertanyaan guru yang baik dan benar menginspirasi peserta
didik untuk memberikan jawaban yang baik dan benar pula. Guru harus memahami
kualitas pertanyaan, sehingga menggambarkan tingkatan kognitif seperti apa yang
akan disentuh, mulai dari yang lebih rendah hingga yang lebih tinggi. Bobot
pertanyaan yang menggambarkan tingkatan kognitif yang lebih rendah hingga yang
lebih tinggi disajikan berikut ini.
|
Tingkatan
|
Sub Tingkatan
|
Kata-kata
kunci pertanyaan
|
|
Kognitif yang lebih rendah
|
Pengetahuan (knowledge)
|
§
Apa...
§
Siapa...
§
Kapan...
§
Di mana...
§
Sebutkan...
§
Jodohkan atau
pasangkan...
§
Persamaan kata...
§
Golongkan...
§
Berilah nama...
§
Dll.
|
|
Pemahaman (comprehension)
|
§
Terangkahlah...
§
Bedakanlah...
§
Terjemahkanlah...
§
Simpulkan...
§
Bandingkan...
§
Ubahlah...
§
Berikanlah
interpretasi...
|
|
|
Penerapan
(application
|
§
Gunakanlah...
§
Tunjukkanlah...
§
Buatlah...
§
Demonstrasikanlah...
§
Carilah hubungan...
§
Tulislah contoh...
§
Siapkanlah...
§
Klasifikasikanlah...
|
|
|
Kognitif yang lebih
tinggi
|
Analisis (analysis)
|
§
Analisislah...
§
Kemukakan bukti-bukti…
§
Mengapa…
§
Identifikasikan…
§
Tunjukkanlah sebabnya…
§
Berilah alasan-alasan…
|
|
Sintesis (synthesis)
|
§ Ramalkanlah…
§ Bentuk…
§ Ciptakanlah…
§ Susunlah…
§ Rancanglah...
§ Tulislah…
§ Bagaimana kita dapat memecahkan…
§ Apa yang terjadi seaindainya…
§ Bagaimana kita dapat memperbaiki…
§ Kembangkan…
|
|
|
Evaluasi
(evaluation)
|
§
Berilah pendapat…
§
Setujukah anda…
§
Kritiklah…
§
Berilah alasan…
§
Nilailah…
§
Bandingkan…
§
Bedakanlah…
|

Terima kasih ya.. ijin ngopi
BalasHapusTerimakasih...izin ngopi bersama ya..😂😂😂
BalasHapus